3 Jenis Pengolahan Lak: Produk Hasil Budidaya

Produk hasil hutan non kayu berasal dari usaha atau kegiatan budidaya (pemeliharaan) hewan khususnya serangga dengan tumbuhan atau tanaman tertentu antara lain misalnya adalag suter alam, lak, madu lebah, dan sebagainya (Kasmudjo. 2010)

Produk budidaya berupa lak dapat diperoleh dengan memelihara kutu lak pada tanaman inang tertentu misalnya kesambi, akasia, ploso, dan sebagainya. Produk berupa madu lebah dihasilkan dari usaha perlebahan, yaitu pemeliharaan lebah madu pada tanaman berbunga, sedangkan sutera alam dihasilkan dari usaha persuteraan alam yaitu pemeliharaan ulat sutera dengan memberi makan ulat sutera tersebut dengan daun murbei (Morus sp.).

Lak adalah suatu sekresi sejenis damar yang dihasilkan dari suatu jenis serangga yang disebut dengan kutu lak. Sekresi ini oleh kutu lak tersebut dipergunakan sebagai sumber makanan dan rumahnya untuk melindungi diri dari serangan musuh-musuhnya dan letaknya melekat pada ranting atau cabang dari suatu pohon inang (Kasmudjo. 2010)

Kutu lak adalah serangga dengan warna merah, berbentuk seperti perahu kecil dengan ukuran panjang 0,5 mm dan mempenyuai sepasang ekor pada bagian tubuh belakangnya. Kutu lak mempunyai alat mulut merupakan rahang atas dan rahang bawahnya. Kutu lak jantan dan betina dapat dibedakan melalui selubung laknya (rumah, sekresinya) yaitu yang jantan mempunyai selubung lak lonjong dan betina mempunyai selubung lak oval atau agak bulat (Kasmudjo. 2010).

Suatu sel induk kutu lak mengandung 200-300 buah telur yang nantinya akan keluar sebagai larva yang merayap pada ranting-ranting. Keluarnya larva terjadi pada jam 8-11 pagi atau pada jam 4 sore, pada suhu 24-28 derajat celsius selama 3-16 hari (Kasmudjo. 2010).

Nama lak berasal dari kata sansekerta laksa yang berarti seratus ribu. Dengan asal kata tersebutlah mungkin orang kemudian menamakan lak, karena dalam kenyataan bahwa kutu lak jumlahnya ribuan dan hidup dalam satu konoli pada cabang atau ranting-ranting suatu pohon inang (kesambi, akasia, ploso, widoro, dan lain-lain).

Dari sekresi lak ini dapat diperoleh lak batang (stoklac), dan dari tingkat pengolahan yang sederhana sampai yang bertingkat-tingkat dapat diperoleh seed lac (lak butir), shellac (lak lembaran), dan white lac (lak putih).

Spesies kutu lak ada bermacam-macam yaitu, Laccifer lacca Kerr, Laccifec javanus Chamb, Tachardia aurantiica Cockl, dan lain sebagainya.

Di Indonesia telah mampu menghasilkan lak batang yang merupakan bahan utama untuk pembuatan seed lac (lak butir), shellac (lak lembaran), dan white lac (lak putih).


1. Pembuatan Lak Butiran (Seed Lac)

Adapun uruttan pembuatan lak butir dapat diberikan sebagai berikut (Kasmudjo. 2010):

  1. Pertama-tama stok lak dikerok dan digiling menjadi butiran.
  2. Butiran-butiran ini kemudian disaring dengan saringan 10 mesh dan 30 mesh.
  3. Butiran lak hasil saringan ini kemudian dimasukkan dalam bak yang terbuat dari batu atau semen.
  4. Tiap butiran lak sebanyak 1 bagian yang dimasukkan ke dalam bak tersebut ditambahkan 2 bagian air dan 3 bagian tri-etanol-amine atau sodium karbonat (soda abu).
  5. Selajutnya lak digosok-gosok (berulang-ulang) dan dicuci dengan air hingga bersih dan jernih.
  6. Sesudah itu lak yang didapat dipindahkan ke dalam bak semen yang lain yang telah diisi dengan larutan garam yang telah dingin (larutan garam ini diperoleh dengan jalan mendidihkan 1,5 bagian garam dapur dengan 2,5 bagian air).
  7. Selajutnya lak diaduk-aduk selama 5 menit dan kemudian dibiarkan beberapa saat. Dengan demikian maka kotoran-kotoran yang lebih berat dari lak akan mengendap dan kotoran-kotoran yang lebih ringan dari lak akan mengapung bersama laknya.
  8. Lak dengan kotoran yang mengapung kemudian dipindahkan ke dalam bak lain yang diisi air bersih, dan diaduk kuat-kuat beberapa saat.
  9. Setelah dibiarkan beberapa saat maka lak yang diperoleh akan mengendap sedang kotoran-kotorannya tetap mengapung.
  10. Endapan yang berupa lak pada dasar bak kemudian dikeluarkan dan dicuci bersih hingga bebas dari pengaruh garam.
  11. Dengan demikian telah diperoleh lak butir (seed lac). Agar kering maka lak butir diangin-anginkan untuk beberapa saat.


2. Pembuatan Lak Lembaran (Shellac)

Adapun urutan cara pembuatannya adalah sebagai berikut (Kasmudjo. 2010):

  1. Mula-mula autoklaf diisi dengan air kira-kira 20% volumenya.
  2. Di atas masing-masing rangkaian saringan 20 mesh diisi atau di letakkan seed laci (kapasitas tiap saringan misalnya 4,5 kg).
  3. Selanjutnya autoklaf ditutup rapat-rapat dan di panaskan dalam bara api langsung atau dengan pemanasan uap.
  4. Akibat pemansan ini maka tekanan di dalam autoklaf akan meningkat menjadi 1,5 atmosfir.
  5. Selajutnya kran untuk mengeluarkan lelehan lak dibuka sedikit di dapat lak. Jika tekanan makin tinggi, membukanya kran juga makin melebar.
  6. Setelah itu tekanan dalam autoklaf ditingkatkan menjadi 4 atmosfir sehingga semua lelehan lak akan keluar seluruhnya.
  7. Selanjutnya api dikecilkan dan tutup autoklaf dibuka. Kotoran yang tinggal pada saingan diambil dan dibersihkan saat masih hangat (agar mudah membersihkannya).
  8. Setelah didapat lelehan lak, maka dengan pemanasan sedikit, lelehan jadi dibawah/dijatuhkan pada "roller" yang bergerak dengan diamater 25 cm, panjang 50 cm, dan dilengkapi dengan saluran pengatur panas. Disamping itu dilengkapi pula dengan sebuah roller lagi yang diamaternya 4,5 dan panjangnya 50 cm yang berfungsi untuk meratakan lelehan lak.
  9. Selanjtunya untuk melepaskan/mengambil lak dari roller yang bergerak digunakan pisau tajam.
  10. Setelah dingin lak lembaran diremuk (bila perlu), sehingga akhirnya didapat keping-keping lak yang tipis sebagaimana diperdagangkan di toko-toko.


3. Pembuatan Lak Putih

Adapun urutan pembuatan lak putih adalah sebagai berikut (Kasmudjo. 2010):

  1. Pembuatan larutan pemucat (larutan pemutih, bleaching liquor).
  2. Pembuatan larutan lak (dari seed lac).
  3. Pemucatan larutan lak.
  4. Pengasaman larutan lak (yang telah dipucatkan).
  5. Pencucian akhir.
  6. Pengeringan dan penyimpanannya.
  7. Pencetakan lak putih.


Sumber:

Kasmudjo. 2010. Teknologi Hasil Hutan. Cakrawala Media. Yogyakarta.


Salam Lestari, 

Lamboris_Pane

0 Response to " 3 Jenis Pengolahan Lak: Produk Hasil Budidaya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel