5 Komponen Utama Sistem Peralatan Kromatografi Gas

5 Komponen Utama Sistem Peralatan Kromatografi Gas

Kromatografi gas adalah salah satu metode yang dinamis dalam pemisahan dan deteksi senyawa-senyawa organik yang mudah menguap dan senyawa-senyawa gas anorganik dalam suatu campuran. Sehingga dapat digunakan sebagai gas pembawa atau fase gerak senyawa itu sendiri (Rohman, 2009).

Kromatografi gas mempunyai prinsip dasar dengan melibatkan volatilisasi atau penguapan sampel dalam inlet injektor, pemisahan komponen-komponen dalam campuran, dan deteksi tiap komponen dengan detektor.

GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry) merupakan gabungan dua buah alat antara kromatografi gas dan spektrometry massa yang digunakan untuk mendekteksi massa antara 10 m/z hingga 700 m/z (Fessenden, 1982). 

Kromatografi gas berfungsi sebagai alat pemisah berbagai komponen campuran dalam sampel (Agusta, 2000). Prinsip kerja dari kromatografi gas terkait dengan titik didih senyawa yang dianalisis serta perbedaan interaksi analit dengan fase diam dan fase gerak. 

Senyawa dengan titik yang tinggi memiliki waktu retensi yang alam. Senyawa yang lebih terikat dalam fase cair pada permukaan fase diam juga memiliki waktu retensi yang lebih lama, sedangkan untuk spektrometri massa berfungsi untuk medeteksi masing-masing molekul komponen yang telah dipisahkan pada sistem kromatografi gas (Agusta, 2000).

Pada umumnya kromatografi gas ini dapat disebut dengan GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry). Di dunia ilmu kehutanan, biasanya alat ini digunakan pada sampel yang berbau minyak, yaitu minyak atsiri maupun turunannya. Alat ini digunakan untuk menentukan beberapa senyawa yang terdapat pada minyak itu sendiri.

Analisis senyawa dengan menggunakan Gas Chromatography – Mass Spectometry (GC-MS) yang terdapat dalam sampel oleoresin. Tujuannya untuk mengetahui senyawa yang terdapat didalamnya. Komponen dicacah pada detektor dan direkam dalam recorder sehingga didapatkan pembacaan berupa peak area yang menunjukkan persentase area dari komponen yang di analisis. 

Masing-masing puncak dari kromatografi dilihat spektrum massanya lalu dianalisis kandungan senyawanya dengan cara membandingkan spektrum tersebut dengan data analisa standar SRM (Standard Reference Material) yang ada pada Standard Library Spectra. Identifikasi analit terhadap Standard Library Spectra dinyatakan dengan persen kemiripan dan keduanya dinyatakan identik jika komputer menilai persen keduanya diatas 90%.

Baca juga: 6 Proses Kerja Analisis Kromatografi Gas


Untuk dapat menggunakan alat ini dibutuhkan beberapa komponen utama sistem peralatan. Komponen utama sistem peralatan kromatografi gas terdiri dari kontrol dan penyedia gas pembawa, ruang suntik sampel, kolom, detektor, dan komputer (Rohman, 2009).

GC_MS
Sumber: http://lansida.blogspot.com/

1. Kontrol dan Penyedia Gas Pembawa

Komponen ini merupakan tahapan atau fase gerak pada kromatografi gas yang bertujuan awalnya untuk membawa solut ke kolom, karenanya gas pembawa tidak berpengaruh pada selektifitas.

Syarat pada komponen ini adalah tidak reaktif, murni atau kering karena kalau tidak murni akan berpengaruh pada detektor, dan dapat disimpan dalam tangki tekanan tinggi (umumnya merah untuk hidrogen dan abu-abu untuk nitrogen).

Tabung gas berfungsi sebagai penyuplai gas yang digunakan dalam analisis. Gas yang digunakan sebagai pembawa bisa berupa hidrogen, helium maupun nitrogen. Akan tetapi, helium lebih sering digunakan sebab bersifat inert sehingga tidak bereaksi dengan sampel (Sutar, 2013).


2. Ruang Suntik Sampel

Komponen dimana lubang injeksi didesain untuk memasukkan sampel secara cepat dan efesien. Desain yang populer terdiri atas saluran gelas yang kecil atau tabung logam yan dilengkapi dengan septum karet pada satu ujung untuk mengakomodasi injeksi dengan semprit (syringe). Dimana helium (gas pembawa) mengalir melalui tabung, sejumlah volume cairan yang dinjeksikan akan segara diuapkan untuk selanjutnya dibawa menuju kolom.

Sampel dimasukkan dalam jumlah sedikit pada waktu yang tepat untuk mendapatkan efisiensi. Sampel yang digunakan tidak boleh terlalu pekat, sehingga sebelumnya harus diencerkan. Injeksi sampel dapat diambil melalui karet silicon ke dalam oven untuk diuapkan. Ada dua macam injeksi sampel, yang pertama adalah metode splitless, dimana semua sampel yang diuapkan masuk ke dalam kolom untuk dikromatografi. Sedangkan metode split, sebagian dibuang setelah diuapkan. Jumlah sampel yang masuk dalam metode split tergantung pada perbandingan yang sudah diatur sebelumnya (Sutar, 2013).


3. Kolom

Komponen ini merupakan suatu wadah terjadinya proses pemisahan karena di dalamnya terdapat tahapan diam. Sehingga kolom merupakan komponen sentral pada kromatografi gas.

Kolom adalah suatu tempat terjadinya proses pemisahan karena di dalamnya terdapat fase diam. Sehingga, kolom dapat dikatakan sebagai komponen sentral pada kromatografi gas dimana efesiensi kolom kromatografi gas secara umum berkaitan dengan lamanya waktu komponen atau molekul yang dianalisis berada dalam kolom ynag dikenal waktu lambat. Untuk syarat kolom yang baik yakni : tidak mudah menguap, stabil pada pemanasan, lembap dan tetapan fisik diketahui (Sutar, 2013).


4. Detektor

Komponen ini merupakan suatu perangkat yang terdapat pada ujung kolom tempat keluar dari fase gerak yang membawa komponen hasil pemisahan. Komponen ini mempunyai sensoe elektronik yang mengubah signal gas pembawa dan komponen-komponen di dalamnya menjadi signal elektronik yang berguna untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif terhadap komponen-komponen yang terpisah di antara tahap diam dan gerak.

Detektor adalah suatu perangkat yang diletakkan pada ujung kolom tempat keluar fase gerak (gas pembawa) yang membawa komponen hasil pemisahan. Detektor ini berfungsi sebagai pendeteksi adanya komponen dalam cuplikan yang terpisah dan mengukur kuantitasnya (Sutar, 2013).


5. Komputer

Komponen ini digunakan pada kromatografi yang sudah modern yang memiliki parameter-parameter instrumen, menampilkan kromatogram dan informasi-informasi lain dengan menggunakan grafik berwarna, merakam data kalibrasi, retensi, serta perhitungan-perhitungan dengan statistik, menyimpan data analisis.

Sistem pengolahan data menggunakan teknologi komputer merupakan suatu perangkat lunak yang dimanfaatkan sebagai digitalisasi signal detektor, memfasilitasi pengaturan parameter-parameter instrumen, menampilkan kromatogram dan informasi-informasi lain dengan menggunakan grafik berwarna, merekam data kalibrasi, retensi, serta perhitungan-perhitungan dengan statistik, menyimpan data parameter analisis (Sutar, 2013).

Baca juga: Apa Sih Minyak Atsiri?


Sumber:

Agusta, A. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Penerbit ITB.

Fessenden, R. J. 1982. Kimia Organik. Diterjemahkan Oleh Pudjaatmakan, A. H., Edisi III. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Rohman, A. 2009. Kromatografi untuk Analisis Obat. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Sutar. 2013. Laporan Praktikum Analisis Instrumen GC-MS. Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta.


Salam Lestari,
Lamboris Pane

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel