4 Tahap Pelaksanaan Pengeringan Kayu secara Buatan

Sebelumnya di blog ini sudah pernah membahas tentang pelaksanaan pengeringan kayu secara buatan sekilas. Dalam kesempatan ini blog ini akan membahasnya secara lengkap menurut pengetahuan admin.

Pelaksanaan pengeringan kayu secara buatan terbagi dalam 4 tahap, yaitu: penyediaan alat, penumpukan/penyusutan kayu, pengambilan contoh pengamatan, dan pengawasan proses pengeringan.


1. Penyediaan Alat

Alat yang harus disediakan adalah alat pengukur kadar air kayu (Hydrometer) untuk mengetahui kadar air kayu setiap saat diperlukan. Jika tidak memiliki alat pengukur ini dapat digunakan timbangan dan oven untuk mengeringkan potongan contoh-contoh kayu pengamatan hingga tercapai tingkat kering multak.

Untuk mengukur suhu dan kelembaban udara digunakan alat termometer kering (dry bulb temperature) dan termometer basah (wet bulb temperature). Suhu pada termometer basah selalu lebih rendah dari suhu termometer kering. Selisih kedua termometer ini menunjukkan kelembaban udara (RH= Relative Humidity).

Selain sumber panas, peredaraan udara dalam kiln sangat penting karena peredaraan udara, suhu, dan kelembaban dapat merata. Peredaraan udara dalam kiln menjadi ditimbulkan oleh dua hal, yaitu (Siska, 2020):

  1. Perbedaan temperatur karena pemanasan, sebab udara panas lebih ringan daripada udara dingin.
  2. Tenaga kipas (fan) yang dibedakan menjadi dua yaitu kipas arah radial dan kipas arah aksial tumpukan kayu.


2. Penumpukan/penyusutan Kayu

Merupakan syarat multak bahwa pondasi dan lantau kiln harus kuat dan datar, agar tidak mempengaruhi kerusakan kayu dan tumpukan kayu secara keseluruhan. Adanya keseragaman dalam mengeringkan kayu, yaitu jenis kayu, kualitas kayu, ketebalan kayu, dan kadar air awal kayu (Siska, 2020).

Kayu yang dikeringkan dapat diletakkan langsung diatas pondasi tapi ada juga yang menggunakan lori. Agar peredaran udara merata pada seluruh permukaan kayu, pada tumpukan kayu diberi ganjal/sticker untuk tiap lapisan tumpukan kayu dan dibagian atas diberi pemberat agar kayu tidak mengalami perubahan bentuk selama proses pengeringan berlangsung.


3. Contoh Kayu Pengamatan

Hal yang penting dalam contoh kayu pengamatan adalah agar kayu yang diambil benar-benar dapat menwakili kelompoknya, karena kayu pengamaran bertujuan untuk menentukan langkah-langkah perubahan kondisi pengeringan.

Contoh kayu pengamatan diletakkan didalam tumpukan kayu yang mudah untuk diperiksa. Contoh pengamatan sebagai petunjuk untuk mengmati perubahan yang terjadi yang menjurus kepada kerusakan kau, sehingga dengan kayu pengamatan dapat diketahui apakah pengeringan tersebut terlalu cepat atau lambat, apakah kadar air kayu yang diiginkan tercapai dan apakah ada kerusakan yang terjadi sebelum proses pengeringan berakhir (Siska, 2020).


4. Pengawasan Proses Pengeringan

a. Penggunaan jawdal pengeringan

Jawdal pengeringan adalah daftar yang memuat tahap-tahap perubahan suhu dan kelembaban udara dalam proses pengeringan berdasarkan kadar air kayu. Berdasarkan sifat-sifat kayu secara umum, maka skema pengeringan untuk beberapa jenis kayu dapat dikelompokkan dalam beberapa macam.

Dari skema pengeringan dapat dilihat, pada awal proses pengeringan dipergunakan suhu yang rendah kemudian perlahan-lahan suhu dinaikan dan kelembaban udara diturunkan. Dengan naiknya suhu, kadar air kayu akan tercapai pengeringan yang sempurna dengan kerusakan yang tidak berarti, maka suhu dan kelembaban dalam kiln perlu diamati, diatur sesuai dengan jawdal pengeringan yang digunakan selama pengeringan berlangsung (Siska, 2020).

Cepat atau lambat muatan kayu dikeringkan tergantung beberapa faktor yaitu, kadar air kayu awal, kadar air kayu akhir yang diiginkan, jenis kayu yang dikeringkan, tebal tipisnya kayu yang dikeringkan, sirkulasi udara, kualitas alat kiln itu sendiri.

Adakalanya menjelang tahap akhir pengeringan bisa terjadi perbedaan kadar air kayu dibagian permukaan dan di dalam kayu, untuk itu diadakan penyamaan (equalizing dan conditioning) yang mempunyai tujuan untuk menghilangkan tegangan-tegangan yang timbul pada kayu selama proses pengeringan berlangsung dan agar diperoleh kadar air kayu yang sama pada setiap papan.


b. Pencacatan jalannya pengeringan

Tujuan pencacatan jalannya pengeringan untuk mengawasi hasil pengeringan dan sebagai tindakan penyesuaian pemakaian jawdal pengeringan, sehingga kerusakan yang mungkin terjadi akibat pengeringan dapat diperkecil. Data-data yang perlu dicacat adalah (Siska, 2020):

  1. Pengeringan: nomor urut muatan/kiln, nama pengawas/operator.
  2. Kayu: jenis kayu, ukuran kayu, kubikasi, kadar air kayu akhir yang dikehendaki.
  3. Perubahan kondisi pengeringan suhu dan kelembaban udara dari waktu ke waktu tertentu dengan menyesuaikan perkembangan keadaan kayu.
  4. Jawdal pengeringan yang digunakan.
  5. Cacat-cacar yang terjadi selama dan setelah kayu dikeringkan.
  6. Banyaknya pemakaian bahan bakar/listrik.
  7. Lamanya pengeringan.
  8. Biaya-biaya pengeluaran selama proses pengeringan.


Sumber:

Siska, G. 2020. Materi Mata Kuliah Pengeringan dan Pengawetan Kayu. UPR. Palangka Raya.


Salam Lestari,

Lamboris_Pane

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel