5 Aspek Ergonomis yang Harus Dipertimbangkan dalam Perancangan Areal Kerja Industri

Secara ideal perancangan stasiun kerja haruslah disesuaikan peranan dan fungsi pokok dari komponen-komponen sistem kerja yang terlibat yaitu manusia, mesin/perlatan dan lingkungan fisik kerja. Peranan manusia dalam hal ini akan didasarkan pada kemampuan dan keterbatasannya terutama yang berkaitan dengan aspek pengamatan kognitif. fisik maupun psikologisnya (Surasana, 2020).

Demikian juga peranan atau fungsi mesin/peralatan seharusnya ikut menunjang manusia (operator) dalam melaksanakan tugas yang ditentukan. Mesin/peralatan kerja juga berfungsi menambah kemampuan manusia, tidak menimbulkan stress tambahan akibat beban kerja dan membantu melaksanakan kerja-kerja tertentu yang dibutuhkan tetapi berada diatas kapasitas atau kemampuan yang dimiliki manusia.

Berkaitan dengan perancangan areal/stasiun kerja dalam industri maka ada 5 aspek ergonomis yang harus dipertimbangkan adalah (Surasana, 2020):


1. Sikap dan Posisi Kerja

Tidak peduli apakah pekerja harus berdiri, duduk atau dalam sikap/posisi kerja lain, pertimbangan ergonomis yang berkaitan dengan sikap posisi tertentu yang kadang-kadang cenderung untuk tidak mengenakkan.

Untuk menghindari sikap dan posisi kerja yang kurang favourable ini pertimbangan-pertimbangan ergonomis antara lain (Surasana, 2020):

  1. Mengurangi keharusan operator untuk bekerja dengan sikap dan posisi membungkuk dengan frekuensi kegiatan sering atau jangka waktu lama.
  2. Operator tidak seharusnya menggunakan jarak jangkuan maksimum yang dilakukan. Pengaturan posisi kerja dalam hal ini dilakukan dalam jarak jangkuan normal (konsep/prinsip/ekonomi gerakan).
  3. Operator tidak seharusnya duduk atau berdiri pada saat bekerja untuk waktu yang lama dengan kepala, leher dada atau kaki berada dalam sikap atau posisi miring.
  4. Operator tidak seharusnya dipaksa bekerja dalam frekuensi atau periode waktu yang lama dengan tangan atau lengan berada dalam posisi diatas level siku yang normal.


2. Anthropometri dan Dimensi Ruang Kerja

Anthropometri pada dasarnya akan menyangkut ukuran fisik atau fungsi dari tubuh manusia termasuk di sini ukuran linier, berat, volume, ruang gerak, dan lain sebagainya. Data anthropometri ini akan sangat bermanfaat didalam perencanaan peralatan kerja dan fasilitas-fasilitas kerja (termasuk perencanaan ruang kerja). Untuk perencanaan stasiun kerja data anhtropometri akan bermanfaat baik didalam memilih fasilitas-fasilitas kerja yang sesuai dimensinya dengan ukuran tubuh operator, maupun didalam merencanakan dimensi ruang kerja itu sendiri (Surasana, 2020).


3. Kondisi Lingkungan Kerja

Suara-suara bising yang tidak terkendali (diatas ambang decible yang diizinkan) tidak saja merusak pendengaran manusia, akan tetapi juga bisa berinterferensi dengan sistem komunikasi suara yang dipakai di industri/pabrik yang berguna untuk signal peringatan untuk kondisi-kondisi darurat. Getaran-getaran tidak terkendali dari mesin bisa pula mempengaruhi performans kerja mesin yang lain, disamping juga menimbulkan gangguan stress bagi manusia (Surasana, 2020).


4. Efesiensi Ekonomi Gerakan dan Pengaturan Fasilitas Kerja

Perancangan sistem kerja haruslah memperhatikan prosedur-prosedur untuk mengekomodasikan gerakan-gerakan kerja sehingga dapat memperbaiki efesiensi dan mengurangi kelelahan kerja. Pertimbangan mengenai prinsip-prinsip ekonomi gerakan diberikan selama tahap perancangan sistem kerja dari suatu industri, karena hal ini akan mempermudah modifikasi.

Beberapa ketentuan-ketentuan pokok yang berkaitan dengan prinsip-prinsip ekonomi gerakan yang perlu dipertimbangkan dalam perancangan stasiun kerja, adalah (Surasana, 2020):

  1. Organisasi fasilitas kerja sehingga operator secara mudah akan mengetahui lokasi penempatan material, produk akhir, atau limbah, spare-parts, peralatan kerja, mekanisme kontrol atau display dan lain sebagainya yang dibutuhkan tanpa harus mencari-cari.
  2. Buat rancangan fasilitas kerja (mesin, meja, kursi, dan lain sebagainya) dengan dimensi yang sesuai data anthropometri dalam range 5 sampai 95 th percentile agar operator bisa bekerja leluasa dan tidak cepat lelah.
  3. Mengatur suplai/pengiriman material ataupun peralatan.perkakas secara teratur ke stasiun-stasiun kerja yang membutuhkan.
  4. Untuk menghindari pelatihan ulang yang tidak perlu dan kesalahan-kesalahan manusiawi karena pola kebiasaan yang sudah dianut, maka bakukan racangan lokasi dari peralatan kerja untuk model atau tipe yang sama.
  5. Membuat rancangan kegiatan kerja sedemikan rupa sehingga akan terjadi keseimbangan kerja antara tangan dan tangan kiri (terutama untuk kegiatan perakitan).
  6. Mengatur tata letak pabrik (facilities layout) sesuai dengan aliran proses produksinya. Caranya adalah dengan mengatur letak mesin atau fasilitas kerja berdasarkan konsep machine after.
  7. Mengkombinasikan dua atau lebih peralatan kerja sehingga akan memperketat prose kerja.


5. Energi Kerja yang Dikomsumsikan

Energi kerja yang dikomsumsikan pada saat seseorang melaksanakan kegiatan merupakan faktor yang kurang begitu diperhatikan, karena dianggap tidak penting bila mana dikaitkan dengan performans kerja yang ditunjukkan. Meskipun energi dalam jumlah besar harus dikeluarkan untuk periode lama bisa menimbulkan kelelahan fisik, akan tetapi bahaya yang lebih besar justru kalau kelelahan menimpa pada mental manusia.

Sistem kerja pada hakikatnya merupakan hasil suatu upaya pengintegrasian atau penyatuan bagian-bagian (komponen yang ternyata memiliki sifat, karakteristik, serta kemampuan tersendiri, terlepas dan bebeda dari sifat atau kemampuan masing-masing komponen yang lebih unit kegiatan akan diselenggarakan (Surasana, 2020).


Sumber:

Surasana, N. 2020. Materi Mata Kuliah Ergonomi Kehutanan. UPR. Palangka Raya.


Salam Lestari,

Lamboris_Pane

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel