5 Cara Membasmi Hama Hutan

Hutan tanaman atau hutan tanaman industri memilki berbagai masalah dalam pengembangannya dan pembangunannya, salah satunya masalah hama hutan. 

Perubahan ekosistem dari hutan alam menjadi hutan tanaman industri yang monokultur atau campuran terbatas dapat mengakibatkan terjadinya perubahan ekosistem yang sangat sederhana sehingga memacu peningkatan organisme tertentu khususnya berupa serangga yang dapat berpotensi sebagai hama.

Kerusakan hutan merupakan berkurangnya suatu luasan areal kawasan hutan akibat adanya kerusakan ekosistem hutan yang umumnya disebut dengan degradasi hutan ditambah juga penggundulan dan alih fungsi lahan hutan atau istilahnya deforestrasi.

Menurut CIFOR (International Forestry Research) menjelaskan tentang penyebab perubahan tutupan hutan yang terdiri dari perlandangan berpindah, perambahan hutan, transmigrasi, pertambangan, perkebunan, hutan tanaman, pembalakan dan industri perkayuaan.

Penyebab kerusakan hutan dipicu oleh kegiatan ilegal logging, kebakaran hutan, perambaan hutan, dan serangan hama penyakit.

Jumlah populasi hama yang meledak mampu menjadi salah satu bentuk kerusakan hutan. Hama-hama tersebut dapat menyerang dengan menimbulkan kerusakan terhadap vegetasi yang ada di kawasan hutan.

Hama hutan adalah segala organisme hidup yang tergolong pada jenis serangga/satwa yang mengakibatkan kerusakan biji, bibit, tanaman muda dan tua yang secara ekonomi. Ketika jumlah hama hutan berlebihan pada suatu kawasan tertentu akan mengakibatkan kerugian ekonomi melalui menurunya produktifitas hasil hutan, menurunnya pertumbuhan tumbuhan, dan bahkan mematikan suatu vegetasi hutan.

Berdasarkan kegiatan dan aktivitas hama hutan tersebut dapat dihadapi melalui 5 cara ini (TW, H. T. dan Mahfudz. 2012). Berikut 5 cara membasmi hama hutan adalah:


1. Deteksi

Cara ini merupakan suatu langkah pertama yang bertujuan untuk membasmi serangan hama yang dapat membawa pada bagian pengambilan tindakan yang tepat. Mendeteksi suatu kehadiran hama pada daerah tertentu bertujuan terhadap tindakan seperti penafsiran populasi hama, membuat strategi baru tentang penanaman, tindakan pengendalian dan mencegah meluasnya serangan hama tersebut.

Cara yang terlambat dapat menimbulkan kehadiran suatu hama yang menyebabkan tidak cukupnya waktu guna mengadakan tindakan tepat. Ketika hal ini terjadi dapat dilakukan dengan cara mendeteksi berpondasi pada gejala kerusakan, pengamatan terhadap hama itu sendiri, maupun bekas-bekas makanan atau kotorannya.


2.Identifikasi Serangga Penyebab

Cara kedua ini memerlukan sistem tegasan tentang hubungan antara penyebab yang diperkirakan serta gejala suatu serangan pada tanaman, supaya cara-cara berikutnya dapat dilakukan dengan tepat. Cara ini bertujuan untuk mencari informasi terhadap sifat-sifat morfologi serangga.


3. Penafsiran terhadap Hubungan antara Serangga dan Tanaman

Cara ketiga ini membentuk tindakan intesitas kontrol yang akan dilakukan kedepannya. Cara ini bertujuan untuk mengetahui informasi terhadap sistem interaksi antara serangga dan tanaman.


4. Analisis

Cara ini menjelaskan tentang tindakan pencegahan yang terjadi pada ulangan peledakan hama pada waktu mendatang untuk mengetahui hubungan antara populasi dengan adanya ledakan yang terjadi.


5. Pengendalian 

Cara ini membutuhkan beberapa tindakan yang penting, seperti pemakaian insektisida dan lain sebagainya. Pondasi pengendalian ini adalah teknik dasar dalam menghindarkan serangan hama, membunuh serangga atau menciptakan keadaan lingkungan yang tidak dapat ditoleransi oleh serangga.

Pengendalian hama bertujuan untuk mengurangi populasi hama sebelum hama mencapai tingkat makan aktif di daerah tertentu. Kegiatan pengendalian ini berupa sanitasi, pergiliran tanaman dan kontrol secara biologi.

Pengendalian hama dapat dilakukan melalui perlindungan tanaman yang bertujuan untuk mengurangi kerusakan pada tanaman. Dan dapat juga dilakukan dengan pengunduran waktu tanam atau panen serta penggunaan varietas tahan hama yang mampu mengurangi kerusakan suatu tanaman.


Sumber :

TW, H. T. dan Mahfudz. 2012. Hama Hutan Indonesia Catatan 20 Tahun Peneliti. Balai Penelitian Kehutanan Manado. Manado.


Salam Lestari,

Lamboris Pane

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel