Senyawa Zat Warna Alami | Tanin, Flavonoid, dan Kuinon

Senyawa Zat Warna Alami | Tanin, Flavonoid, dan Kuinon

Pigmen atau zat warna merupakan suatu zat yang mengubah warna cahaya tampak sebagai akibat proses absorpsi selektif terhadap panjang gelombang pada kisaran tertentu. Pigmen tidak menghasilkan warna tertentu sehingga berbeda dari zat-zat pendar (luminescence).

Menurut Febriana (2016) menyatakan zat warna adalah suatu senyawa organik tidak jenuh yang mengandung gugus kromofor dan gugus auksokrom. Gugus kromofor adalah bagian dari molekul yang dapat menyerap panjang gelombang tertentu dari cahaya tampak dan merefleksikan warna tertentu. Sedangkan gugus auksokrom adalah gugus yang dapat menyokong kromfor untuk memberikan warna tertentu.

Zat warna terbagi atas dua jenis yaitu zat warna alami dan sintetis.

Zat warna alami (zat warna alam) adalah suatu zat warna yang berasal dari alam seperti tumbuhan, hewan, maupun mineral. Penggunaan zat warna alam lebih banyak bersumber dari tanaman karena lebih mudah didapatkan. Sedangkan zat warna sintetis adalah zat warna tiruan dari bahan alaminya yang dibuat melalui perlakuan pemberian perlakuan kimiawi dan lain sebagainya yang dapat bersifat racun.

Ada beberapa kelompok penting senyawa kimia pewarna alami adalah karotenoid, flavonoid, tetrapirroles, dan xantofil. Pewarna alami dapat digunakan pada industri tekstil, makanan, farmasi, kosmetik, kerajinan, dan panyamakan kulit.

Berikut senyawa zat warna alami adalah.


1. Tanin

Tanin
Sumber: https://id.wikipedia.org/

Tanin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang diketahui mempunyai beberapa manfaat yaitu sebagai astrigen, anti diare, anti bakteri, dan antioksidan. Senyawa tanin ini secara alami terkandung dalam berbagai bagian tumbuhan, seperti daun, kacang, biji, buah, dan kulit batang. Tanin diproduksi oleh tumbuhan supaya melindungi diri dari hama. Umumnya tanin mempunyai molekul yang lebih besar dibandingkan jenis polifenol lain.

Tanin adalah suatu kelompok dalam senyawa phenol yang mempunyai karakteristik bereaksi dengan ferric chloride dan mampu membentuk ikatan dengan protein. Tanin mempunyai berat molekul yang tinggi dan gugus hidroksil sehingga mampu membentuk kompleks dengan protein. 

Tanin juga adalah senyawa metabolit sekunder yang bersifat astrigen dengan rasa sepat (kesat di lidah) yang khas dan membawa pigmen pada tanaman. Secara umum tanin dibedakan atas tanin hidrolisis dan tanin kondensasi (Febriana, 2016).

  1. Tanin hidrolisis merupakan turunan dari gallic acid (3,4,5-trihydroxyl benzoic acid). 
  2. Tanin kondensasi merupakan polimer yang terbentuk dari kondesansi flavan dan tidak mengandung residu gula. 


Berdasarkan warna yang dihasilkan, tanin dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe yaitu clear tannin, yellow tannin dan red-brown tanin.

Tanin sebagai zat warna mampu memberikan warna cokelat. Tanin merupakan senyawa polar sehingga dapat larut pula pada pelarut polar seperti alkohol, air, dan aseton. Tanin tidak dapat larut pada kloroform, petroleum eter, dan benzene. 

Uji kualitatif tanin dilakukan dengan cara mereaksikan sampel dengan ferric chloride. Kandungan tanin terindenfikasi dengan perubahan warna sampel menjadi biru gelap atau hijau kehitaman. Pada tanaman, tanin banyak terkandung pada bagian kayu, kulit kayu, biji, daun, bunga, dan akar.

Baca juga: 11 Jenis Tumbuhan Penghasil Tanin Terbanyak


2. Flavonoid

Flavonoid
Sumber: https://www.dictio.id/

Flavonoid merupakan jenis antioksidan yang banyak terkandung dalam cokelat. Antioksidan itu sendiri bekerja menangkal radikal bebas dalam tumbuh. Radikal bebas ditengarai sebagai penyebab berbagai penyakit kronis.

Flavonoid terdapat di dalam tumbuhan, baik pada buah maupun sayuran. Flavonoid juga berperan untuk meredakan peradangan, membantu tubuh melawan infeksi virus dan reaksi alergi, bahkan mempunyai sifat antikanker.

Flavonoid adalah senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon dengan struktur terdiri atas dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh 3 atom karbon. Flavonoid terdapat pada semua tumbuhan hijau sehinga banyak ditemukan pada ekstrak tanaman. Flavonoid juga adalah pigmen yang banyak ditemukan pada tumbuhan dan larut dalam air.

Antosianin adalah jenis senyawa flavonoid yang paling banyak ditemukan di alam. Antosianin dapat memberikan warna dengan range dari orange-merah hingga unggu. Munculnya warna tersebut dipengaruhi oleh nilai keasaman. Antosianin memberikan warna merah pada nilai asam dan memberikan warna biru nilai basa (Bechtold dan Mussak, 2009).

Flavonoid mempunyai beberapa klasifikasi yaitu flavon, flavonol, flavanon, dan flavanol. Flavonoid memberikan pita serapan saat diuji menggunakan spektroforometer UV-Vis. Pita serapan utama flavonoid diberikan oleh keberadaan cincin -A pada panjang gelombang 250-285 nm dan cincin -B pada panjang gelombang 320-385 nm.

Uji kualitatif flavonoid dengan dilakukan dengan mereaksikan sampel zat warna dengan padatan logam magnesium dan asam klorida. Hasil uji akan menunjukkan perubahan warna merah pada sampel zat warna.


3. Kuinon

Kuinon
Sumber: https://www.wikiwand.com/

Kunion adalah golongan senyawa organik yang diturunkan senyawa aromatik (misalnya benzena atau naftalena) dengan perubahan -CH= menjadi kelompok -C- dengan penataan ulang ikatan ganda, sehingga menjadi struktur dione siklik terkonjugasi. Golongan kuinon meliputi beberapa senyawa heterosiklik.

Kuinon adalah senyawa kimia yang dapat menjadi zat warna alami. Kuinon diklasifikan menjadi tiga tipe berdasarkan kimianya, yaitu (Febriana, 2016):

  1. Benzokuinon yang terkandung pada bunga, jamur, dan lichens.
  2. Naftakuinon dengan senyawa utama yaitu lawson (2-hydroxy-1,4-napthoquinone) dan juglon (5-hydroxy-1,4 napthoquinone).
  3. Antrakuinon adalah senyawa yang paling banyak ditemukan di alam terdiri dari senyawa polifenol atau turunan alkoksinya dan mengandung substituent pada posisi β. Senyawa zat warna yang dapat memberikan warna merah. Senyawa yang paling stabil di alam yaitu alizarin atau 1,2-dihydroxy anthraquinone.


Uji kualitatif kuinon dilakukan dengan mereaksikan sampel zat warna dengan suatu senyawa basa misalnya NaOH 1%.

Baca juga: 5 Faktor Penentu Hasil Tanin


Sumber:

Bechtold, T., & Mussak, R. (Eds.). 2009. Handbook of natural colorants (Vol. 8). John Wiley & Sons.

Febriana, I. D. 2016. Ekstraksi Zat Warna Alami Dari Kayu Mahoni (Swietenia Mahagoni) Dan Kayu Nangka (Artocarpus Heterophyllus) Menggunakan Metode Ultrasound Assisted Extraction (Uae) Dan Air–Ultrasound Assisted Reflux Extraction (Aure) (Doctoral dissertation, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya).


Salam Lestari,
Lamboris Pane

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel