Habitat dan Penyebaran Burung Rangkong

Burung rangkong di Indonesia yang terbanyak terdapat di Pulau Sumatera dengan jumlah 10 jenis, disusul Pulau Kalimantan 9 jenis, dan Pulau Jawa 3 jenis.13 Burung rangkong adalah burung yang memiliki tubuh berukuran besar, pada umumnya warna bulu didominasi warna hitam, coklat dan putih.14 Burung rangkong yang terdapat di Indonesia memiliki ukuran tubuh berkisar antara 40 cm sampai 150 cm, dengan rangkong terberat mencapai 3,6 kg.

Burung rangkong merupakan kelompok burung yang mudah dikenali karena memiliki ciri khas berupa paruh yang besar dengan struktur tambahan di bagian atasnya yang disebut balung (casque). Casque sering disebut juga dengan istilah tanduk. Keberadaan tanduk atau casque pada burung rangkong merupakan bentuk perbedaan jenis kelamin antara jantan dengan betina. Burung rangkong jantan memiliki tanduk lebih besar dan berwarna terang dibandingkan burung rangkong betina. Tanduk pada burung rangkong akan mengalami perkembangan seiring dengan pertambahan umurnya.


HABITAT DAN PENYEBARAN BURUNG RANGKONG

Burung Rangkong terdapat di hutan hutan sekunder. Hutan sekunder juga terdapat pohon pakan untuk burung rangkong mencari makan atau bersarang. Burung rangkong memerlukan lubang besar pada pohon yang masih hidup. Spesies burung rangkong yang relatif kecil memerlukan pohon dengan diameter lebih dari 20 cm, sedang spesies yang lebih besar memerlukan setidaknya lubang pada pohon dengan diameter lebih dari 60 cm (Meijaard et al., 2006). 

Stattersfield  et al., (1998) menyatakan sekitar 98% dari seluruh jenis burung sebaran-terbatas di Indonesia menggunakan hutan sebagai tempat hidupnya. Hal ini menegaskan bahwa hutan adalah tipe habitat utama jenis burung sebaran-terbatas di Indonesia. Sujatnika et al. (1995) menambahkan bahwa sekitar 28% jenis burung sebaran-terbatas hanya hidup di habitat hutan hujan pegunungan, sementara 14% lainnya hanya hidup di habitat hutan hujan dataran rendah.

Rachmawati, Rahayuningsih dan Kartijono (2013), menerangkan bahwa ketersediaan pohon yang berfungsi sebagai tempat bersarang merupakan hal yang terpenting bagi keberadaan rangkong untuk membesarkan anak dan mendukung eksistensinya agar tidak mengalami kepunahan.

Sarang Burung Rangkong berada di dalam lubang pohon yang masih hidup. Lubang yang digunakan dapat berupa lubang alami atau lubang bekas sarang pelatuk. Pada masa mengerami, betina akan mengurung diri selama masa mengerami dan jantan akan setia melayani istrinya, karena Rangkong dikenal sebagai burung yang setia pada pasangan (monogami). Pada saat membesarkan anak-anaknya maka pejantan dan betinanya melakukan peranan masing-masing (Meijaard et al., 2006)

Aryanto et al. (2016) menyatakan, karakteristik pohon yang diminati burung rangkong untuk bersarang adalah pohon berdiameter besar. Pohon besar (diameter setinggi dada >65 cm) diperkirakan memiliki potensi sebagai pohon sarang. 

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan burung rangkong juga dapat bersarang pada pohon yang memiliki ukuran diameter di bawah 65 cm karena selain ukuran diameter pohon yang besar, karakteristik pohon sarang adalah memiliki lubang alami untuk dijadikan sarang. Pohon yang tinggi dan memiliki beberapa percabangan juga diminati untuk menjadi tempat bertengger atau sekedar beristirahat (Aryanto et al., 2016). 

Menurut Kwok dan Corlett (2000) kawasan hutan meskipun berupa hutan sekunder merupakan habitat yang lebih baik bagi burung dibandingkan kawasan terdegradasi atau lahan perkebunan.

Burung enggang pejantan akan bertugas mencari makanan berupa buah-buahan, kadal, kelelawar, tikus, ular dan berbagai jenis serangga, sedangkan betinanya akan bertugas untuk menjaga anak-anaknya di dalam sarang. 

Hal ini akan dilakukan selama anaknya belum bisa terbang. Rangkong merupakan kelompok burung yang mudah dikenali. Secara umum ciri yang dimiliki burung rangkong adalah ukuran tubuhnya yang besar dengan panjang total antara 381 sampai 1600 mm. 

Memiliki paruh yang sangat besar dan kokoh tetapi ringan yang dinamakan hornbilll, berwarna merah atau kuning, melengkung dan beberapa menyerupai cula. Bulu berwarna coklat, hitam, putih, atau hitam dan putih. Kulit dan bulu disekitar tenggorokan berwarna terang, sayap kuat, ekor panjang, kaki pendek, jari-jari kaki besar dan sindaktil (MacKinnon, Philipps dan Balen, 2010). Burung rangkong banyak ditemukan di daerah hutan dataran rendah dan hutan perbukitan dengan ketinggian lokasi sekitar 0-1000 meter di atas permukaan laut (mdpl) (Nur, 2013).


STATUS PERLINDUNGAN BURUNG RANGKONG

Seluruh jenis rangkong (Bucerotidae) di Indonesia merupakan satwa yang dilindungi melalui Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. (Kumara, 2006).

Dengan semakin meningkatnya pembukaan hutan menjadi perkebunan dan pertanian, mengakibatkan semakin berkurangnya habitat bagi satwa terutama burung rangkong. Selain tekanan terhadap habitatnya, rangkong juga mendapatkan ancaman lainnya seperti perburuan liar untuk diperdagangkan sebagai binatang peliharaan dan  sebagai hiasan rumah. Bahkan balung dari Rangkong Gading (Rhinoplax vigil) telah di ekspor ke China sebagai simbol keberuntungan (IUCN Red List, 2007). 

Di Indonesia, seluruh jenis rangkong dilindungi Undang-Undang melalui Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 226 tahun 1931, Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tentang Inventarisasi Satwa Dilindungi, Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. 

Hadiprakarsa dan Winarni (2007) menyatakan bahwa semua petak hutan di luar kawasan taman nasional mengalami ancaman yang cukup mengkhawatirkan, khususnya petak hutan berukuran kecil mengalami tekanan hebat berupa pembalakan hutan dan perubahan penggunaan lahan menjadi lahan pertanian atau perkebunan, khususnya kopi. 


Sumber:

Meijaard, E., Sheil, D., Nasi, R., Augeri, D., Rosenbaum, B., Iskandar, D., ... & O’Brien, T. 2006. Hutan pasca pemanenan: melindungi satwa liar dalam kegiatan hutan produksi di Kalimantan. CIFOR.

Sujatnika, P. J., Soehartono, T. R., Crosby, M. J., & Mardiastuti, A. 1995. Melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia: pendekatan daerah burung endemik. Bogor. BirdLife International-Indonesia Programme dan PHPA-Departemen Kehutanan.

Aryanto, A. S., Setiawan, A., & Master, J. 2016. Keberadaan burung rangkong (bucerotidae) di gunung betung taman hutan raya wan abdul rachman. Jurnal Sylva Lestari, 4(2), 9-16.

Kwok, H. K., & Corlett, R. T. 2000. The bird communities of a natural secondary forest and a Lophostemon confertus plantation in Hong Kong, South China. Forest Ecology and Management, 130(1-3), 227-234.

Nur, R. F. 2013. Kelimpahan dan Distribusi Burung Rangkong (Famili Bucerotidae) di Kawasan PT. Kencana Sawit Indonesia (KSI), Solok Selatan, Sumatera Barat. Prosiding SEMIRATA 2013, 1(1).

Kumara, I. (2006). Karakteristik Spasial Habitat Beberapa Jenis Burung Rangkong di Taman nasional Danau Sentarum (Doctoral dissertation, Tesis pada Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor).

Hadiprakarsa, Y., & Winarni, N. L. (2007). Fragmentasi hutan di Lampung, Sumatera vs burung rangkong: Mampukah burung rangkong bertahan hidup. Jurnal Indonesian Ornithologists’ Union (IdOU), 5(1), 94-102.


Salam Lestari,

Lamboris Pane

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel