Gambaran Umum Acacia crassicarpa

Acacia crassicarpa adalah salah satu famili Fabaceae yang mulai banyak direkomendasikan untuk ditanam dalam rangka rehabilitasi lahan kritis maupun pembangunan HTI. Hal ini didasarkan pada pertumbuhannya yang cepat, mempunyai adaptasi yang luas dan tahan terhadap kondisi yang kurang menguntungkan (tidak memerlukan syarat tumbuh yang tinggi serta kualitas kayunya memenuhi syarat bahan baku industri) (Riadi, 2006). 

Acacia crassicarpa termasuk tanaman yang cepat tumbuh, dapat hidup dengan baik pada lahan 2 marginal dengan pH rendah, tanah berbatu serta tanah yang mengalami erosi (Leksono, 2003) dan pada daerah gambut. Pembangunan HTI pada lahan gambut sampai saat ini jenis yang dikembangkan adalah jenis Acacia crassicarpa, karena hanya jenis ini yang telah terbukti mampu tumbuh baik pada lahan gambut, sedangkan jenis lain seperti Acacia mangium dan Eucalyptus pellita pertumbuhannya kurang baik pada tanah marine clay (Suhartati et al., 2013).

Acacia crassicarpa merupakan jenis introduksi yang dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun serta mampu tumbuh pada tanah yang kurang subur. Menurut para ahli botani bahwa tanaman Acacia berasal dari australia. Acacia crassicarpa tumbuh alami di bagian Timur laut Queensland, Barat Daya Papua New Guinea dan di bagian Tenggara Papua. Jenis ini sekarang sudah ditanam di Sumatra, Kalimantan terutama di areal HTI yang rawa-rawa. 

Namun demikian, pembangunan HTI Acacia crassicarpa yang berdekatan dengan kawasan hutan berpotensi invasif dan mengganggu keanekaragam jenis-jenis asli setempat. Pembangunan Hutan Tanaman Industri untuk pulp (HTI-Pulp) khususnya di Kalimantan Tengah tepatnya di PT. 

Industrial Forest Plantation mengembangkan Acacia crassicarpa sebagai tanaman pokok karena memenuhi persyaratan sebagai bahan baku kayu untuk industri pulp dan kertas. Pulau Kalimantan sebagian besar merupakan lahan gambut, sehingga konsesi pengembangan HTI diarahkan ke lahan gambut dan dapat beradaptasi pada lahan gambut, sehingga terpilih sebagai tanaman pokok untuk lahan gambut.


Berikut gambaran umum Acacia crassicarpa, adalah:


1. Klasifikasi

Acacia crassicarpa merupakan tanaman tropis yang tumbuh cepat dengan kemampuan adaptasi yang tinggi dan merupakan tanaman pemfiksasi nitrogen. Di alam, akasia ini dapat hidup pada tanah yang memiliki drainase yang buruk sampai tanah kering (Gunn & Midgley 1991). Berikut adalah klasifikasi dari Acacia crassicarpa :

Kingdom : Plantae 

Divisi : Magnoliophyta 

Kelas : Magnoliopsida 

Ordo : Fabales 

Famili : Fabaceae 

Genus : Acacia 

Spesies : Acacia crassicarpa 


2. Sifat Botanis 

Acacia crassicarpa merupakan tumbuhan berukuran sedang dengan rata-rata 6,25 m dan diameter antara 50–60 cm. Batang gelap dengan alur-alur yang cukup dalam, tajuknya bercabang banyak dan menyebar. Acacia crassicarpa memiliki tinggi antara 25–30 meter dengan biji berwarna hitam memanjang. Daun akasia memiliki dua jenis bentuk, ketika dalam masa juvenil daunnya akan membentuk daun majemuk bipinnate, sedangkan pada masa dewasa akan muncul filodia (Bhattacharrya & Johri 1998). 


3. Tempat Tumbuh dan Penyebaran

Acacia crassicarpa dapat tumbuh pada lahan yang asam (pH 3,5–6) dan di berbagai tipe tanah seperti gambut, tanah berpasir, tanah podsolik merah dan kuning, tanah alluvial, serta mempunyai ketahanan terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik. Acacia crassicarpa umumnya tumbuh di daerah tropik dan subtropik yang secara geografis terletak pada 8°LS–20°LS dengan ketinggian tempat berkisar pada 0–450 m dpl dan curah hujan tahunan berkisar antara 500–3500 mm. 

Tempat tumbuh jenis ini memiliki rata-rata suhu udara minimum berkisar pada 15–22°C dan suhu udara maksimum adalah 31–34°C (Buharman dkk., 2011). Di Papua New Guinea dan Papua, Acacia crassicarpa ditemukan tumbuh pada tanah lapang yang bergelombang, pada tempat-tempat dengan pengairan yang baik dan tanah dengan kadar asam tinggi. Jenis eksotis dari Australia, Papua New Guinea, dan Indonesia yang merupakan salah satu jenis tanaman cepat tumbuh atau fast growing


4. Kegunaan

Menurut Doral dan Turnbull (1997) Acacia crassicarpa dapat digunakan sebagai pelindung dan naungan, fiksasi nitrogen udara dan perlindungan tanah dalam mencegah erosi. Kayunya dapat digunakan untuk pembuatan pulp dan kertas, konstruksi bangunan, mebel, bahan baku pembuatan kapal, sebagai bahan kayu bakar, konstruksi, furnitur, dan pembuat lantai. 

Pohonnya memberikan naungan dan mampu mengendalikan pertumbuhan gulma, selain itu merupakan jenis yang efektif untuk rehabilitasi lahan yang diserang Alang-alang (Imperata cylindrical L.) dan lainnya.


Sumber:

Bhattacharyya, B and B. M. Johri. 1998. Flowering Plants: Taxonomy and Phylogeny. Nurosa Publishing House, New Delhi.

Doral dan Turnbull, 1997. Ekobiologi Patogen: Perspektif dan Penerapannya dalam Pengendalian Penyakit. Balai Penelitian Tanaman Hias. Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian. Vol 2 (2) : 111-130.

Gunn, B.V. dan Midgley, S.J. 1991 Genetic Resources and Tree Improvement: Exploring and Accessing The Genetic Resources of Four Selected Tropical  Acacia. dalam:Turnbull, J.W. (ed.) Advances in tropical acacia research, 57–63. Prosiding ACIAR No. 35. Australian Centre for International Agricultural Research, Canberra, Australia.

Leksono. 2003. Variasi Pertumbuhan Tanaman pada Uji Provenansi Acacia crassicarpa Umur 9 Tahun di Lipat Kain, Riau. Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol.1 No.3:101-110.

Riadi, R. 2006. Upaya Penyelesaian Konflik Catchtment Area di Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau. Jurnal Penelitian Magistra No.89.

Suhartati, Aprianis Y, Pribadi A, Rochmayant Y. 2013. Kajian Dampak Penurunan Daur Tanaman Acacia crassicarpa A. Cunn terhadap Nilai Produksi dan Sosial. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 10 (2) : 109-117.


Salam Lestari,

Lamboris Pane

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel