6 Aspek Finansial Kelayakan Bisnis

6 Aspek Finansial Kelayakan Bisnis

Aspek finansial berkaitan dengan bagaimana menentukan kebutuhan jumlah dana dan pengalokasiannya serta mencari sumber dana yang bersangkutan secara efisien, sehingga memberikan tingkat keuntungan yang menjanjikan bagi investor (Ibrahim, 2015).

Dalam pengkajian aspek finansial diperhitungkan jumlah dana yang dibutuhkan untuk membangun dan atau mengoperasikan kegiatan bisnis. Gittinger (2013) menyatakan bahwa analisis aspek finansial merupakan proyeksi anggaran penerimaan dan pengeluaran bruto pada masa yang akan datang pada setiap tahunnya. 

Pada perusahaan yang telah berjalan, analisis finansial atau keuangan didasarkan pada data historis perusahaan sejak perusahaan tersebut dimulai, sedangkan untuk perusahaan yang baru berjalan, laporan tersebut akan digunakan untuk memproyeksikan perusahaan sampai umur proyek.

Tujuan dari dilakukannya analisis finansial ini adalah untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang di harapkan, dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan dalam kurun waktu yang telah ditentukan dan menilai suatu proyek akan dapat berkembang sehingga secara finansial dapat berdiri sendiri (Gittinger, 2013).

Berikut 6 aspek finansial kelayakan bisnis adalah, (Kadariah et al., 2011)


1. Analisis Arus Kas (Cashflow)

Analisis Arus Kas (Cashflow)
Sumber: https://www.dictio.id/

Perhitungan cashflow penting sekali dalam evaluasi proyek secara finansial. Cashflow merupakan besarnya arus kas yang diperoleh dari selisih penerimaan dan pegeluaran pada kondisi riil. Menurut Soekartawi (2013), dalam perhitungan cashflow terdapat indikasi yang lazim terjadi terutama dalam perhitungan suatu proyek yaitu :

  1. Besarnya cash out flow (pengeluaran) yang semakin kecil berdasarkan umur proyek.
  2. Besarnya cash in flow (pemasukan) yang semakin kecil berdasarkan umur proyek.
  3. Besarnya net cash flow (keuntungan) yang semakin kecil berdasarkan umur proyek.


Komponen biaya dapat dilihat dari perhitungan investasi dan biaya operasional dan pemeliharaan. Jadi untuk biaya total dapat dirumuskan sebagai berikut :

TC = Investasi + (Biaya Operasional dan Pemeliharaan)

Biaya investasi adalah biaya dikeluarkan pada saat awal usaha atau proyek dimulai. Biaya operasional dan pemeliharaan adalah biaya yang digunakan untuk menggunakan faktor produksi yang sifatnya berubah atau bervariasi tergantung pada produk yang direncanakan atau besar kecilnya skala produksi. 

Penerimaan (revenue) adalah hasil produksi fisik yang dinyatakan dalam jumlah uang yang diperoleh, dengan cara mengalikan jumlah output dengan jumlah harga persatuan output. Total revenue dapat dirumuskan sebagai berikut:

TR = Q.Pq

Keterangan :
TR = Total Revenue (Rp)
Q = Jumlah Output (Ekor)
Pq = Harga Output (Rp)

Manfaat benefit dapat dinyatakan debagai keuntungan (profit) proyek. Keuntungan adalah total penerimaan dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan. Sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut,

Π = TR-TC

Keterangan :
Π = Keuntungan (Rp)
TR = Total Revenue (Rp)
TC = Total Cost (Rp)


2. Net Present Value (NPV) 

Net Present Value (NPV)
Sumber: https://www.educba.com/

Net Present Value (NPV) adalah metode menghitung nilai bersih (netto) pada waktu sekarang (present). Asumsi present yaitu menjelaskan waktu awal perhitungan bertepatan dengan waktu evaluasi dilakukan atau pada peride tahun ke-nol (0) dalam perhitungan cash flow investasi. 

Dengan demikian, metode NPV pada dasarnya memindahkan cash flow yang menyebar sepanjang umur investasi ke waktu awal investasi (t = 0). 

Suatu usaha dinyatakan layak jika NPV > 0. Jika NPV = 0 berarti usaha tersebut tidak untung maupun rugi. Jika NPV < 0 maka usaha tersebut dinyatakan rugi sehingga lebih baik tidak dilaksanakan (Husnan dan Suwarsono, 2014).


3. Internal Rate Of Return (IRR)

Internal Rate Of Return (IRR)
Sumber: https://www.fromthegenesis.com/

IRR merupakan tingkat suku bunga dimana nilai kini dari biaya total sama dengan nilai kini dari penerimaan total. Gittering (2013) menyebutkan bahwa IRR adalah tingkat rata-rata keuntungan interen tahunan bagi perusahaan yang melakukan investasi dan dinyatakan dalam satuan persen. 

Tingkat IRR mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat dibayar oleh bisnis untuk sumberdaya yang digunakan. Perkiraan IRR dapat di hitung dengan Rumus:

IRR = i1  +  NPV1/(NPV1-NPV2) ( i2 – i1)

Keterangan:
IRR = Internal Rate of Return (Persen)
i1 = Discount faktor yang menghasilkan NPV positif (Persen)
i2 = Discount faktor yang menghasilkan NPV negatif (Persen)
NPV1 = NPV positif (Rp)
NPV2 = NPV negatif (Rp)

Suatu investasi dianggap layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku dan sebaliknya jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku, maka bisnis tidak layak untuk dilaksanakan.


4. Gros Benefit Cost Ratio (Gross B/C)

Gros Benefit Cost Ratio (Gross B/C)
Sumber: https://rumus.co.id/

Kriteria investasi ini hampir serupa dengan investasi Net B/C, perbedaannya adalah bahwa dalam perhitungannya Net B/C biaya tetap tiap tahun dikurangkan dari benefit tiap tahun untuk mengetahui benefit netto yang positif dan negatif. 

Kemudian, jumlah present value yang positif dibandingkan dengan present value negatif. Sebaiknya dalam perhitungan Gross B/C, pembilang adalah jumlah present value arus benefit (bruto) dan penyebut adalah jumlah present value arus biaya (bruto). Rumus Gross B/C dapat ditulis sebagai berikut:

Jika suatu usaha dinyatakan layak apabila Gross B/C > 1, maka usaha tersebut layak dilaksanakan (menguntungkan), jika Gross B/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak dilaksanakan (tidak menguntungkan), dan apabila Gross B/C = 1 usaha tersebut mengembalikan modal persis sama dengan biaya yang dikeluarkan (impas) (Gray, 2015).


5.  Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Sumber: https://www.educba.com/

Net B/C adalah perbandingan antara jumlah present value net benefit yang positif dengan jumlah present value net benefit yang negatif. Jumlah present value positif sebagai pembilang dan jumlah present value negatif sebagai penyebut. Net B/C menunjukkan gambaran berapa kali lipat manfaat (benefit) yang diperoleh dari biaya (cost) yang dikeluarkan. 

Apabila net B/C > 1, maka proyek atau gagasan usaha yang akan didirikan layak untuk dilaksanakan. Demikian pula sebaliknya, apabila net B/C < 1, maka proyek atau gagasan usaha yang akan didirikan tidak layak untuk dilaksanakan. Net B/C ratio merupakan manfaat bersih tambahan yang diterima proyek dari setiap 1 satuan biaya yang dikeluarkan (Gray, 2015).


6. Payback Period

Payback Period
Sumber: https://wheon.com/

Payback period merupakan suatu jangka waktu (periode) yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi yang ditanamkan. Payback Period merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengukur seberapa cepat periode pengembalian investasi dengan perhitungan dinyatakan dalam satuan waktu yaitu tahun dan bulan. Perhitungan dengan cara Payback Period adalah sebagai berikut:

PP = n + (a – b) / (c - b) x 1 tahun

Keterangan:
PP = Payback Period (Tahun)
n  =  Tahun terakhir dimana jumlah arus kas masih belum bisa menutup investasi mula-mula (Tahun)
a  =  Jumlah investasi mula-mula (Rp)
b  =  Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke – n (Rp)
c  =  Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n + 1 (Rp)

Dalam perhitungan Payback Period apabila periode pengambilannya lebih cepat maka suatu usaha ini layak untuk di kembangkan, dan sebalinya apabila periode pengambilannya leboh lama maka usaha ini tidak layak untuk dikembangkan (Brigham et al., 2011).


Sumber:

Brigham., Eugene., Houston & Joel. 2011. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Terjemahan. Salemba Empat. Jakarta.

Gittinger, JP. 2013. Analisis Ekonomi Proyek Pertanian. Edisi Kedua. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Husnan & Suwarsono. 2014. Studi Kelayakan Proyek. Edisi Ketiga.UPP AMP YKPN. Yogyakarta.

Ibrahim, Y. H. M. 2015. Studi Kelayakan Bisnis. Edisi Revisi. Penerbit PT. Rineka Cipata. Jakarta.

Kadariah, Lien K., & Clive G. 2011. Pengantar Evaluasi Proyek. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

Soekartawi. 2013. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Pertanian Kecil. Rajawali Press. Jakarta.


Salam Lestari,

Lamboris Pane

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel