Laporan Silvikultur Pemeliharaan dan Pengukuran Tanaman Balangeran

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Hutan sebagai sumberdaya alam yang dpat diperbaharui memberikan manfaat pada setiap manusia. Namun dari tahun ke tahun kawasan hutan semakin berkurangseiring meningkatnya kebutuhan manusia akan hasil hutan dan adanya kemajuan teknologi. Pertambahan penduduk yang semakin meningkat berbanding terbalik dengan persediaan sumberdaya hutan.

Silvikultur merupakan cara-cara mempermudaan hutan secara alami dan buatan, serta pemeliharaan tegakan sepanjang hidupnya. Termasuk kedalam sivikultur ialah pengetian tentang persyaratan tapak atau tempat tumbuh pohon perilakunnya terhadap berbagai intensitas cahaya matahari, kemampuannya untuk tumbuh secara murni atau campuran, dan hal-hal lain yang mempengaruhi pertumbuhan pohon. Jadi sangatlah penting untuk mengetahui silvikultur masing-masing jenis pohon, sebelum kita dapat mengelolah suatu hutan dengan baik. Silvikultur dapat dianalogikan dengan ilmu agronomi dan holtikultura di pertanian, karena silvikultur dapat juga membicarakan cara-cara membudidayakan tumbuhan, dalam hal pohon-pohon hutan.

Dalam pengertian lebih luas , silvikultur dapat disebut Ilmu pembinaan hutan, dengan ruang lingkup mulai dari pembijian , persemaian, penanaman lapangan, pemeliharaan hutan, dan cara-cara permudaannya. Untuk itu, seorang ahli sivikultur perlu mempelajari berbagai ilmu dasar yang mendukungnya, misalnya ilmu tanah, ilmu iklim, ilmu tumbuhan (botani) ,dendrologi, fisiologi, genetika, serta ekologi. Sekarang, ahli silvikultur pada hakikatnya adalah seorang pemraktek ekologi. Kita menanam dan memelihara hutan, tidaklah hanya untuk dikagumi keidahannya, tetapi yang utama untuk dapat memanfaatkan hutan secara lestari.

1.2. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan kegiatan praktikum silvikultur yang dilakukan adalah sebagai berikut :
  1. Melakukan perawatan tanaman dalam bentuk penebasan gulma pengganggu tanaman pokok (balangeran) selebar 2 meter memanjang searah jalur tanaman. 
  2. Melakukan pendangiran dan pembuatan piringan melingkar di sekitar tanaman pokok dengan jari jari sekitar 50 cm.
  3. Memberi nomor tanaman (No. Jalur dan No. Urut).
  4. Mengukur pertumbuhan tanaman dengan variabel diameter setinggi dada (dbh) dan tinggi tanaman.
  5. Membuat peta penyebaran tanaman.

1.3. Maksud Praktikum
Adapun maksud kegiatan dari praktikum silvikultur yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Mengurangi atau menghilangkan persaingan tempat tumbuh yang disebabkan oleh gulma yang tumbuh disekitar tanaman. Persaingan tersebut berupa ruang tumbuh di atas permukaan tanah, terutama perolehan sinar matahari secara langsung.

2. Melakukan pendangiran dan meninggikan tanah dalam bentuk piringan melingkar di sekitar tanaman pokok dengan jari jari sekitar 50 cm, agar tanah menjadi gembur sehingga pertukaran udara dari permukaan tanah dan di dalam tanah (aerasi tanah) berjalan lebih baik. Tanah yang gembur juga mempermudah perakaran dalam melakukan metabolisme sehingga pertumbuhannya menjadi lebih baik.

Ruang perakaran yang baik mengandung unsur-unsur hara, oksigen dan air dalam jumlah yang relatif seimbang. Disekitar tanaman terbentuk parit kecil yang melingkari tanaman, karena tanah telah dinaikkan di sekitar tanaman. Parit kecil ini mampu menampung air hujan dan unsur hara, untuk selanjutnya akan dialirkan ke bawah - pada zona perakaran tanaman. Kegiatan ini pendangiran dan piringan dilakukan dengan mencangkul tanah disekitar tanaman dan menimbunkan tanahnya di dekat tanaman secara melingkar juga menghindari penggenangan tanaman pada saat musim hujan.

3. Membuat nomor pada tanaman dimaksudkan agar tanaman mempunyai identitas dan alamat yang jelas, yaitu berupa posisi jalur serta nomor urut tanaman dalam jalur tersebut.

4. Mengukur pertumbuhan tanaman dimaksudkan untuk menyediakan data pertumbuhan tanaman balangeran, baik data diameter maupun data tinggnya, sehingga dapat dilakukan analisis riap tahunan rata-rata (mean annual increment), riap tahunan berjalan (curren annual increment) serta riap tahunan periodik (periodically annual increment) sehingga curva pertumbuhan pohon balangeran dapat terbentuk secara utuh.

5. Membuat peta penyebaran tanaman dimaksudkan agar dokumentasi tentang posisi tanaman dapat digambaran secara jelas dalam sebuah peta penyebaran tanaman. Dengan peta penyebaran tanaman ini kegiatan monitoring dan evaluasi dapat dijalankan lebih baik serta menunjang kegiatan praktikum untuk periode berikutnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Deskripsi Tumbuhan Balangeran
Balangeran merupakan jenis tanaman yang cukup potensialuntuk dikembangkan di hutan rawa gambut. Jenis tersebuttermasuk jenis pohon komersial dimana pada umumnya terdapatsecara berkelompok (Martawijata, et al., 1989). Dalam klasifikasi tumbuhan, balangeran (Shorea balangeran) di klasifikasikan sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Theales
Famili : Dipterocarpaceae
Genus : Shorea
Species : Shorea balangeran

Pohon Balangeran dapat tumbuh mencapai tinggi pohon 20-25 m, mempunyai batang bebas cabang 15 m, diameter dapat mencapai 50 cm, biasanya tidak terdapat banir. Pohon balangeran dewasa mempunyai kulit luar berwarna merah tua sampai hitam, dengan tebal 1-3 cm, mempunyai alur dangkal, kulit tidak mengelupas. Jika dilihat dari kayu terasnya berwarna coklat-merah atau coklat tua, sedangkan kayu gubal berwarna putih kekuningan atau merah muda, dengan kertebalan 2-5 cm.

Tekstur kayunya agak kasar sampai kasar dan merata. Kayunya mempunyai serat lurus, jika diraba pada permukaan kayunya licin dan pada beberapa tempat terasa lengket karena adanya damar. Kayu balangeran tergolong kelas kuat II dan mempunyai berat jenis 0,86. Kayunya tidak mengalami penyusutan ketika dikeringkan. Kayu balangeran termasuk ke dalam kelas awet III (I-III) dan tahan terhadap jamur pelapuk. Kegunaan kayu balangeran antara lain dapat dipakai untuk balok dan papan pada bangunan perumahan, jembatan, lunas perahu, bantalan dan tiang listrik.

Daerah persebaran jenis balangeran yaitu di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Persebaran di Sumatera terdapat di Sumatera Selatan yaitu Bangka Belitung, sedangkan di Pulau Kalimatan terdapat di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah. Nama daerah balangeran di setiap daerah berbeda. Di Kalimantan dikenal dengan nama belangiran, kahoi, kawi dan di Sumatera dikenal dengan nama belangeran, belangir, melangir. Balangeran tumbuh tersebar pada hutan primer tropis basah yang seaktu-waktu tergenang air, di daerah rawa atau di pinggir sungai, pada tanah liat berpasir, tanah liat dengan tipe curah hujan A-B pada ketingian 0-100 m dpl.

Permudan alam terdapat bersama-sama dengan jenis lain dalam hutan yang heterogen terutama dengan jenis keruing, tembesu, bintangur, ramin. Balangeran seringkali tumbuh secara berkelompok. Untuk permudaan buatan dapat dilakukan dengan menanam bibit yang tingginya 30-50 cm dengan penanaman di dalam jalur dengan lebar 2-3 m yang telah dibersihkan. Jarak tanam 3 m dengan jarak antar jalur 5-6 m. Pada tanaman muda memerlukan pemeliharaan selama 4-5 tahun. Ketika dewasa memerlukan kondisi cahaya penuh, sehingga diperlukan pemeliharaan dengan membuka ruang tumbuh (Hyne, 1987).

Musim berbunga dan berbuah tidak terjadi setiap tahun. Musim berbuah sangat dipengaruhi oleh keadaan setempat. Biasanya buah masak seringkali bersamaan dengan famili Dipterocarpaceae yaitu bulan Februari, April sampai Juni. Buah balangeran tergolong cepat berkecambah, dan hanya dapat disimpan selama 12 hari di dalam wadah yang diberi arang basah.

2.2. Teknik Silvukultur
2.2.1 Penggulmaan atau Penebasan
Penggulmaan adalah kegitan pembuangan gulma baik yang ada di bawah maupun yang merambat yang menganggu pertumbuhan tanaman muda. intensitas penggulmaan tergantung dari jenis, tapak, dan iklim. Metode penggulmaan bisa dilakukan secara manual, makanis maupun kimia. Adapun sifat-sifat gulma yang menggangu adalah sebagai berikut :
  1. Bekompetisi langsung terhadap cahaya, kelembaban tanah dan nutrisi
  2. Membunuh tanaman dengan menaungi dan melilit tanaman pokok
  3. Gulma yang lebat merupakan potensi bahan bakar
2.2.2 Pendangiran
Pendangiran adalah kegiatan penggemburan tanah disekitar tanaman pokok yang bertujuan untuk memperbaiki sifat fisik tanah (aerasi tanah) (Daniel et al 1987). pendangiran merupakan suatu bentuk kegiatan yang membutuhkan semacam alat yang akan mengaduk permukaan tanah sampai kedalaman yang sedikit saja dengan cara sedemikian rupa, hingga gulma yang masih kecil bisa dimusnahkan dan pertumbuhan  budidaya  dapat ditingkatkan.

Pendangiran untuk mengendalikan gulma dengan pengadukan tanah dapat dimulai pada lahan siap tanam sebelum penanaman. Setelah penanaman tanah dapat didangir, yang untuk sementara tanaman dilakukan sebelum tanaman – tanaman muncul diatas permukaan tanah. Pendangiran biasanya dimulai segera setelah munculnya semaian tanaman diatas tanah, mengingat bahwa gulma juga muncul pada saat yang bersamaan.

Adapun tujuan dari kegiatan pendangiran ini adalah untuk  memacu pertumbuhan tanaman. Selain itu, tujuan pendangiran adalah untuk menahan lengas (membasmi gulma, melonggarkan mulsa pada permukaan, dan menahan air hujan), mengembangkan bahan makanan tanaman, aerasi tanah yang memungkinkan oksigen masuk kedalam tanah serta meningkatkan kegiatan jasad renik (mikroorganisme).

Pendangiran dilakukan disekitar tanaman pokok dan dilakukan ketika pada saat musim hujan, dimana tanaman masih muda.  Kegiatan pendangiran dilakukan setelah kegiatan penyiangan. Waktu pendangiran dilakukan pada musim kemarau menjelang musim hujan tiba. Pencangkulan disekitar tanaman pokok dengan diameter 50 cm dengan menggemburkan tanah dan berbentuk piringan namun tergantung jarak tanamnya. Meninggikan tanah disekitar tanaman pokok agar air tidak tergenang.

Dalam kegiatan pendangiran tanaman perlu ekstra hati-hati jangan sampai mencederai tanaman apalagi sampai terpotong. Kegiatan pendangiran sebaiknya dilakukan 2 kali dalam setahun yakni awal musim hujan dan awal musim kemarau. Selain itu,  tergantung pada tekstur tanahnya, makin berat teksturnya maka makin sering dilakukan pendangiran. Pendangiran dilakukan pada tanaman berumur 1-4 tahun dan diutamakan pada tanaman yang mengalami stagnasi pertumbuhan atau tempat tumbuhnya bertekstur berat dan lahan tidak melalui pengolahan tanah (Departemen Kehutanan 2009).

Cara pendangiran dilakukan dengan menggunakan cangkul yang merupakan alat pendangir yang digunakan untuk menyiang dan membasmi gulma dan rumput disekitar tanaman muda. Bila mana hujan menyebabkan terbentuknya kerak yang keras diatas tanah dan menghalangi munculnya semai diatas tanah, cangkul  merupakan perkakas yang amat baik untuk menggemburkan kerak tanah. Dihindari cara pencangkulan yang terlalu dalam karena dapat merusak perakaran (Kosasih AS et al. 2002).

2.3. Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan
Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan ukuran, baik volume, bobot, dan jumlah sel yang bersifat tidak dapat kembali ke awal. Sedangkan, perkembangan adalah perubahan atau diferensiasi sel menuju keadaan yang lebih dewasa (Zaifbio, 2010).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, yaitu :
  1. Faktor genetik, adalah faktor yang yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan melalui gen atau sifat keturunan. Gen ini mempengaruhi ukuran dan bentuk tubuh tumbuhan. Hal ini disebabkan karena gen berfungsi untuk mengatur sintesis enzim untuk mengendalikan proses kimia di dalam sel.
  2. Faktor lingkungan, adalah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pertumbuhan dan perkembangan dari luar tumbuhan tersebut, seperti keadaan tanah, cahaya matahari dan lain sebagainya.

III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu
Praktikum silvikultur ini dilaksanakan di dihutan pendidikan (KBR) Universitas Palangka Raya Yos Sudarso Ujung.  Praktikum ini dilaksanakan selama kurang lebih 3 bulan yakni dari bulan September sampai dengan bulan Desember.

3.2 Bahan dan Peralatan Praktikum
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanaman balangeran di hutan pendidikan (KBR) Universitas Palangka Raya Yos Sudarso Ujung.
Adapun juga alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut, parang atau sabit, spidol permanen, cangkul, kertas milimeter blok, thally sheet, plastik bening berwarna kuning, dan pita diameter.

3.3 Prosedur Praktikum
Adapun prosedur praktikum yang dilaksanakan di KBR adalah sebagai berikut :
  1. Menentukan lokasi praktikum yang akan dilaksanakan di hutan pendidikan KBR.
  2. Melakukan kegiatan menebas gulma penganggu tanaman balangeran selebar 2 meter memanjang tanaman yang mengunakan parang secara bertahap.
  3. Setelah kegiatan penebas/perintisan, melakukan kegiatan pendangiran dan pembuatan piringan melingkar sekitar tanaman balangeran dengan jar-jari sekitar 50 cm secara bertahap.
  4. Membuat penomoran pada setiap tanaman balangeran dengan label penomoran  dengan tulisan (nomor jalur dan nomor tanaman di mulai dari tepi jalur) yang digantunngkan pada cabang tanaman balangeran tersebut.
  5. Mengukur diameter dan tinggi pada setiap tanaman Balengeran mengunakan alat ukur masing-masing. 
  6. Mencatat hasil praktikum yang  telah dilaksanakan mulai dari penomoran sampai pada pengukuran.
  7. Membuat peta penyebaran tanaman balangeran di kertas milimeter blok. 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Perawatan Tanaman Balangeran
Dalam memulai praktik silvikultur hal pertama yang dilakukan adalah perintisan dengan menggunakan peralatan sabit dan parang untuk membersihkan rumput-rumput ataupun gulma yang tumbuh disekitaran tanaman-tanaman balangeran. Hal ini dilakukan agar mengurangi persaingan tempat tumbuh diatas permukaan tanah antara tumbuhan balangeran dengan gulma atau tumbuhan pengganggu. Setelah dilakukan perintisan kemudian teknik pendangiran untuk memberikan gundukan tanah terhadap tanaman balangeran yang bertujuan untuk memperkokoh tumbuhan tersebut.

Jumlah tanaman tiap jalur memiliki jumlah tanaman yang berbeda-beda, yaitu untuk jalur 31 (32), jalur 32 (13), jalur 33 (17), jalur 34 (16), jalur 35 (24), dan jalur 36 (25), sehingga total tanaman yang terdapat pada lokasi praktikum tersebut adalah 127. Tanaman Balengeran ada ditemukan tumbuhan dengan kondisi yang mati sebanyak satu yang terdapat padamasing-masing  jalur 31,32, 33,35, dan 36. Sehingga dapat diperoleh nilai persentasi kondisi yang hidup dan mati pada tumbuhan Balangeran tersebut, dengan nilai persentasi hidup yang paling besar terdapat pada jalur ke-4 dengan nilai 100% dan persentasi mati yang paling tinggi terdapat pada jalur ke-2 dengan nilai 7.69%.

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman Balangeran dapat dipengaruhi dari lingkungan yaitu melalui teknik penggulmaan dan pendangiran yang dilakukan secara bertahap yang dapat mempengaruhi nilai persentasi hidup dan mati terhadap tanaman Balangeran dengan nilai persentase hidup semakin meningkat dan persentase mati semakin sedikit. Hal ini terjadi karena pengaruh lingkungan yang cocok terhadap tanaman Balangeran tersebut, artinya lingkungan yang cocok melakukan teknik silvikultur perawatan (penggulmaan dan pendangiran) yang intesif dan efesien.

Menurut Purwanto Budi S. 2012 menyatakan pemeliharaan tanaman dengan cara melakukan penebasan memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter yang diamati pada umur tanaman 24 bulan. Berdasarkan penelitian Purwanto Budi S. 2012 diketahui bahwa perlakuan penebasan gulma setiap 4 bulan memberikan pengaruh yang nyata dibandingkan dengan perlakuan lainnya.

Tanaman balangeran yang kondisinya dalam keadaan mati dapat disebabkan karena adanya persaingan gulma yang mengakibatkan kematian tanaman pada plot kontrol dan adanya hama penyakit yang menyerang tanaman, seperti belalang, ulat pemotong dan lain sebagainnya. Menurut Purwanto Budi S. 2012 mengatakan kematian tanaman tanaman selain dipengaruhi oleh cahaya juga dapat dipengaruhi kondisi tapak yang merginal dan genangan air di lahan rawa gambut.

4.2. Pengukuran Tanaman Balangeran
Setelah melakukan perawatan pada tanaman balangeran kegiatan selanjutnya adalah pengukuran yang dilakukan pada jalur ke-1 sampai dengan jalur ke-6. Adapun data yang diperoleh dari hasil pengukuran dicantumkan pada tabel dibawah ini adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Hasil Pengukuran Tanaman Balangeran

No
Jalur
Rerata Diameter
Rerata Tinggi
1
31
0.90
0.84
2
32
0.97
1.07
3
33
0.69
0.47
4
34
0.87
1.14
5
35
1.27
1.16
6
36
0.51
1.21

Pada tabel diatas menjelaskan bahwa rata-rata diameter yang paling besar terdapat pada jalur ke-5 dan rata-rata tinggi yang paling besar terdapat pada jalur ke-6. Hal ini terjadi karena pertumbuhan dan perkembangan tanaman Balangeran pada bagian riap pertumbuhannya lebih besar dibandingkan dengan jalur yang lainnya. Pengukuran diameter dan tinggi tanaman Balangeran dapat dipengaruhi nilai riap pertumbuhan tanaman tersebut dan juga teknik silvikultur perawatan (penggulmaan dan pendangiran) yang efesien. Menurut Purwanto Budi S. 2012 menyatakan bahwa teknik silvikutur perwatan yang efesien memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pertambahan tinggi tanaman, diameter batang dan daya hidup tanaman.

4.3. Pemetaan Tanaman Balangeran
Setelah semua rangkaian kegiatan perawatan dan pengukuran dalam praktek selesai, kegiatan terakhir yaitu pembuatan peta tanaman-tanaman balangeran lengkap dengan keterangan kondisi pada tanaman yang bertujuan untuk mempermudah kegiatan monitoring dan evaluasi tanaman.
Pembuatan peta berdasarkan hasil data yang diperoleh di lapangan mencakup penomoran, jumlah tanaman serta kondisi tanaman dalam keadaan sehat, kerdil ataupun mati.

V. PENUTUP

Adapun kesimpulan dari praktikum yang dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Tanaman Balangeran yang persentasi hidupnya yang paling tinggi  terdapat pada jalur ke-4 dengan nilai 100% dan persentasi matinya terdapat pada jalur ke-2 dengan nilai 7.69%.

2. Teknik silvikutrur pemeliharaan atau perawatan (penggulmaan dan pendangiran) sangat berperan terhadap potensi produkstifitas, daya hidup, pertambahan ukuran tinggi dan diameter terhadap tanaman balangeran.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel