Gambaran Umum Pohon Gemor

Gambaran Umum Gemor
Gemor merupakan jenis pohon yang familinya Lauraceae dengan habitatnya berada di alam rawa gambut. Pohon gemor dapat mencapai ketinggian sebesar 30 cm, tinggi bebas cabang 20 m, dan diameter batang mencapai 70 cm, dan tebal kulit mencapai 2 cm. 
Habitat tegakan pohon gemor ini berada pada tipe iklim A (nilai Q = 0,138), curah hujan 1975-3514 mm/tahun dan suhu berkisar antara 23-〖32〗^0 C, dengan intesitas intesitas cahaya tegakan gemor sekiatar 18,9 %. Pada tingkatan semai, anakan gemor memerlukan cahaya lebih relatif berat, tapi kemudian memerlukan cahaya lebih banyak dengan bertambahnya tingkat pertumbuhan.
Pohon gemor tumbuh dengan kondisi gambut dengan kesuburan tanah sangat rendah dengan pH berkisar 3-4, kondisi KTK yang tinggi kejenuhan basah yang rendah, dan kandungan Al dan Fe sangat rendah.

1. Jenis Gemor
Ada 2 jenis gemor yang umum digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat lokal yaitu sebagai berikut :
Nathaphoebe coriacea (Kosterm)
Jenis gemor ini merupakan gemor yang paling banyak digunakan oleh masayarakat lokal karena kulitnya lebih tebal yang berwarna putih kekuningan.
Nothaphoebe cf umbelliflora
Jenis gemor ini merupakan gemor yang digunakan dengan jumlah sedikit oleh masyarakat lokal karena kulitnya lebi tipis yang berwarna merah.

2. Penyebaran Gemor
Ada 2 wilayah penyebaran gemor yang terdapat dipulau Kalimatan yaitu sebagai berikut:
Kalimantan Tengah
Penghasil utama kulit gemor adalah sebagai berikut : Kecamatan Kereng Bengkirai, Kabupaten Kotawaringan timur, Kabupaten Katingan, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Pulang Pisau, dan  Kabupaten Barito Selatan.
Kalimantan Selatan 
Penghasil utama kulit gemor adalah sebagai berikut: Di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang terdapat di daerah Manarap Hilir yaitu di sekitar hutan Samujur.

3. Nilai Ekonomi Kulit Gemor
Selain untuk memenuji kebutuhan bahan baku industri di dalam negeri, kulit gemor juga diekspor. Berdasarkan nomenklatur hasil hutan (SKI-s-001) kayu gemor termasuk dalam kelompok kulit atau babakan. Harga kulit gemor di tingkat peramu tahun 2009 di Palangka Raya berkisar 4.000-6.000/kg dan harga tersebut cenderung naik dari tahun ke tahun, pada tahun 2012 dan 2013 harga gemor mencapai 15.000. Dari tahun ke tahun permintaan gemor meningkat sedangkan bahan baku semakin sulit diperoleh. pada tahun 2012 harga gemor tertinggi dengan peningkatan harga sebesar 87,5% dibandingkan harga tahun 2011, sedangkan untuk kulit kayu gemor ekspor yang tercatat mencapai pada tahun 2011.

4. Budidaya Gemor
1. Secara Generatif
Dalam budidaya ini terdapat kendala yang dihadapi adalah berkaitan dengan kerusakan ekologi dan berkurangnya tegakan alam gemor maka semakin pohon yang secara fisiologis mampu menghasilkan buah. Buah gemor ini jarang sekali ditemukan, bahkan pencari gemor sekalipun. Hal ini terjadi karena cara pemanenan gemor yang  ekstraktif dengan menebang tegakan gemor yang ada dialam, sehingga adanya pohon masih tersisa di alam secara yang secara fisiologis dapat berubah dapat berbuah semakin kurang keberadaanya.
Buah gemor memiliki bentuk oval dengan panjang 3-3,5 cm, diameter 1,9-2,4 cm, tebal kulit buah 0,2 cm, dengan berat buah dengan kulit 14,8-20,6 gram, berat biji tanpa kulit 9,2 gram. Kulit buah berwarna hijau muda ketika buah masih belum masak dan kulit buah berwarna merah sampai kecoklatan ketika buah masak.

2. Secara Vegetatif
Secara vegetatif ada 2 cara budidaya pohon gemor yaitu sebagai berikut:
Cangkok
Kegiatan pencangkokan adalah memilih bagian batang tegakan yang autrotroph dan dilakukan pengupasan kulit sampai kambiumnya dengan cara (1) mengolesi bagian batang dengan zat perangsang akar, (2) memberikan media dan menutupnya, (3) mengikat cangkokan. Pembungkusan cangkok dapat menggunakan serabut kulit buah kelapa dengan menggunakan media campuran gambut+kompos (1:1) dan dapat juga menggunakan pembungkus cangkok plastik transparan dengan media yang digunakan adalah tana gambut+kompos, sabut kelapa. Setelah lebih 6 bulan, cangkok sudah siap dipindahkan ke polibag.
Stek
Kegiatan ini dilakukan dengan perlakuan pendahuluan dengan pengikatan bahan stekselama beberapa waktu sebelum materi bahan stek dipotong dari lapangan. Perlakuan ini merupakan salah satu cara pengaturan nutrisi pada bahan stek. Secara umum kandungan nutrisi pada bahan stek, rasio kandungan karbohidrat dan nitrogen yang cukup dapat meningkatkan keberhasilan berakar. 

Untuk mendapatkan pengaturan keseimbangan nitrogen yang lebih rendah dan kandungan karbohidarat yang lebi tinggi dapat dilakukan dengan membatasi (blocking) transloaksi karbohidrat dari atas ke bawah pada batang, dan bagian pembatas tersebut nantinya merupakan bagian bawah materi bahan stek. Prosedur kerja adalah (1) Memilih trubusan dari tegakan gemor dengan diameter antara 1-3 cm, (2) Trubusan yang diperoleh diikat menggunakan kawat, (3) Setelah bagian yang diikat bengkak, bahan stek segera dipotong dan disapihkan di persemaian.

5. Hama pada Biji Gemor
Buah gemor yang ditemui dibawah tegakan biasanya sudah rusak dan diserang hama. Berdasarkan identifikasi, didalam biji gemor terdapat telur dan larva yang akhirnya berkembang menjadi kumbang yang memakan zat pati buah gemor yaitu sejenis kumbang dengan famili Curculionidae.

6. Kegunaan Gemor
Gemor dimanfaatkan melalui kulitnya sebagai bahan baku obat nyamuk dan bahan baku perekat. Pada bagian serbuk kulit gemor memiliki kandungan kadar 13,10% , alkohol 0,74%, pyrethin 1,80%, resin 5,21%, tanin 1,66% (Zuhely dan Martono, 2003). Pyrethin adalah suatu bahan aktif  insektisida yang bermanfaat untuk pemberantasan nyamuk dan dapat digunakan sebagai sumber bahan aktif insektisida alami. Gemor ini juga dapat diamnfaatkan sebagai sebagai bahan baku pengambat aktivitas virus.
DAFTAR PUSTAKA

S, Budi Purwanto dan Sudin Panjaitan. 2013. Gemor Hasil Hutan Bukan Kayu Potensial di Hutan Rawa Gambut. Badan Peniltian dan Pengembangan Kehutanan. Banjarbaru.

0 Response to "Gambaran Umum Pohon Gemor"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel