4 Faktor Luar Pertumbuhan Tanaman

faktor

Pola pertumbuhan tanaman membentuk grafik sigmoid yang dapat dirumuskan melalui persamaan eksponesial (Brown, S. 1997; Grant et al., 1997; Radonsa et al., 2003) dan polinomial (Brown, S. 1997; Burkhart 2003). Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh jenis genetik, lingkungan atau tempat tumbuh teknik silvikultur (Wahyudi, 2012).

Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan-pertumbuhan tanaman dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor iklim dan faktor tanah. Faktor iklim terdiri dari curah hujan, cahaya, suhu, kelembaban, angin, dan letak geografis berdasarkan garis lintang. Sedangkan faktor tanah terdiri dari sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, kelerengan, aspek ketinggian dan drainase (Fisher & Binkley, 2000).

Faktor luar yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah:


1. Cahaya Matahari

Cahaya matahari memberi energi pada proses fotosintesis (photosyntesis) yang dilakukan pada organ-organ tanaman yang mengadung zat hijau daun (krolofil) dengan menggunakan karbondioksida dari udara dan air dari tanah. Proses ini menghasilkan karbohidrat dan gas oksingen yang dilepas ke udara (Wahyudi dan Pamoengkas, 2013).

Karbohidrat sebagai energi potensial dismpan dalam tubuh tanaman dan dapat dipergunakan untuk menjalankan proses metabolime. Pemecahan karbohidrat untuk mendapatkan energi dilakukan melalui proses pernapasan (respiration). 

Menurut Sutedjo dan Kartasapoertra (1991), satu molekul karbohidrat dioksidasi dengan 6 molekul oksingen menghasilkan 6 molekul karbohidrat, 6 molekul air dan 674 kalori. Kalori inil ah yang dipergunakan untuk menjalankan metabolisme tumbuhan (Wahyudi dan Pamoengkas, 2013).


2. Air

Jumlah kandungan air di udara dapat menentukan kelembaban udara. Air merupakan komponen utama dan merupakan 70-90% dari seluruh berat tumbuhan. Air merupakan media bagi pertukaran zat dan reaksi biokimia serta berperan penting dalam proses fisiologis tumbuhan.

Air diperlukan untuk proses translokasi, mengatur suhu tumbuhan dan dapat mengeliminasi zat racun dalam tubuh tanaman. Air dipergunakan tumbuhan dalam proses fotosintesa diambil dari tanah melalui perakaran. 

Menurut Lee (1990) air tanah pada zone perakaran berasal dari proses infiltrasi melalui pori-pori tanah. Air yang mengalami infiltrasi berasl dari air lolos, aliran batang dan aliran permukaan yang semuany berasal dari curah hujan (preciptation).


3. Temperatur

Temperatur merupakan salah satu faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman. Setiap jenis tanaman mempunyai relung temperatur tertentu untuk menjalankan proses metabolisme. Temperatur yang terlalu rendah atau tinggi dapat mengganggu pertumbuhan dan kehidupan tanaman.

Tanaman jenis akasia mangium dan sengon memerlukan kisaran suhu antara 18-34 derajat celsius (Departemen Pertanian, 1980), tanaman sungkai hidup baik pada suhu 21-34 derajat celsius, tanaman sengon mampu tumbuh pada suhu 18027 derajat celsius (Departemen Kehutanan, 1998) dan tanaman meranti memerlukan suhu yang lebih rendah pada awal pertumbuhannya kemudian mampu hidup pada suhu yangg lebih tinggi di daerah tropis (Mackinnon, 2000 dalam Wahyudi dan Pamoengkas, 2013).


4. Unsur Hara

Unsur hara adalah ion atau molekul tertentu yang diserap tanaman untuk keperluan kegiatan fisiologisnya. Contoh ion yang diserap adalah K+, Ca2+, NO3-, SO4-2 dan molekul yang diserap adalah O2, CO2, H2O (Wahyudi dan Pamoengkas, 2013).

Menurut Dephut (1998), unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman dibagi menjadi dua kelompok, yaitu unsur makro dan unsur mikro. Unsur hara makro diperlukan dalam jumlah banyak, seperti Karbon, Hidrogen, Oksigen, Nitrogen, Pospor, Belerang, Kalium, Kalsium, dan Magnesium.

Unsur mikro diperlukan dalam jumlah sedikit namun bila kekurangn dapat menganggu pertumbuhan tanaman. Pada umumnya usnur hara mikro merupakan zat katalisator yang dapat membantu proses persenyawaan kimia tanaman.

Unsur mikro terdiri dari besi, mangan, seng, tembaga, borium, clorida, silisium, natrium, kobalt, molybden.


Daftar Pustaka

Brown, S. 1997. Estimating biomass change of tropical forest a primer. FAO. Forest Paper No. 134. FAO USA.

Burkhart, H. E. 2003. Suggestion for Choosing an Appropriate Level for Modelling Forest Stand. In.

Deparemen Pertanian. 1980. Pedoman Pembuatan Tanaman. Direktorat Jenderal Kehutanan. Departemen Pertanian. Jakarta.

Departemen Kehutanan. 1998. Atlas Kayu Indonesia. Jilid I dan II. Badan Litbang Dephut. Bogor.

Fisher, R. F., & D. Binkley. 2000. Ecology and Management of Forest Soil. Third Edition. John Wiley & Sons, Inc., New York.

Gran, W. E., Pedersen, E. K., Marin, S. L. 1997. Ecology and Natural Resource Management. Systems Analysis and Simulation. John Wiely & Sons Inc.

Mackinnon, K., Hatta, G., Hakimah, H., Arthur, M. 2000. Ecology of Kalimantan. Series of Ecology Of Indonesia, Book III. Canadian International Development Angency (CIDA). Prenhalindo. Jakarta.

Sutedjo, M. & Kartasapoerta. 1991. Pengantar Ilmu Tanah. Terbentuknya Tanah dan Tanah Pertanian. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Wahyudi & Pamoengkas, P. 2013. Modelling Pertumbuhan Diameter Tanaman Jabon (Anthocephallus cadamba). Jurnal Blanatura. Universitas Padjadjararan Vol 15, No. 1 Maret 2013).


Salam Lestari,

Lamboris_Pane

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel