5 Pelarut dalam Ekstraksi Oleoresin

5 Pelarut dalam Ekstraksi Oleoresin

Diperbarui: 2 Agustus 2021

Oleoresin merupakan produk hasil hutan bukan kayu yang terdiri dari campuran senyawa volatil (minyak atsiri) dan non volatil (resin/gum). Oleoresin diperoleh dari tahapan ekstraksi.

Ekstraksi adalah suatu kegiatan penarikan kandungan kimia yang larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan pelarut cair. Senyawa aktif yang terdapat pada simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak atsiri, alkaloida, falvonoida, oleoresin, dan lain sebagainya. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang terkandung pada simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat.

Ekstraksi juga merupakan suatu proses penarikan suatu zat dengan pelarut sehingga terpisah dari bahan yang tidak larut dengan pelarut cair.

Dengan adanya kontak dengan pelarut, zata terlarut atau solute yang terkandung dalam umpan akan terlarut di dalam pelarut. Dengan kata lain pemisahan dengan proses ekstraksi ini akan didasarkan pada perbedaan kelarutan komponen-komponen yang dipisahkan.

Pemisahan yang berlangsung dengan ekstraksi mampu digolongkan pemisahan fisik dimana komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi kedalam keadaan semula tanpa mengalami banyak perubahan kimiawi.

Umumnya proses ekstraksi komponen kimia dalam sel tumbuhan digunakan pelarut organik. Pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif, artinya zat aktif akan larut dalam pelrut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus, sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel.

Jaringan tumbuhan yang kering maupun basah dapat diekstrak denga menggunakan pelerut organik seperti etanol, n-heksana, kloroform, etil asetat, dan butanol. Larutan ekstraksi kemudian dipisahkan melalui penyaringan sehingga didapatkan residu dan filtart. Kemudian pelarut dalam filtart dipisahkan dengan cara penyulingan hingga diperoleh yang diinginkan.

Saat terjadi kontak padatan dengan pelarut, sebagian solute akan berpindah ke dalam solvent dan terbentuklah larutan. Perpindahan solute tersebut dapat terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi solute dalam larutan dan dalam padatan.

Perbedaan konsentrasi akan menjadi driving force terjadinya proses ekstraksi. Perpindahan solute akan terjadi hingga dicapai keadaan setimbang. Kesetimbangan yang idealnya harus dicapai hingga dalam ekstraksi padat-cair yang membutuhkan pelerut yang cukup dalam melarutkan semua zat terlarut pada padatan dan tidak ada adsoprsi pada zat terlarut oleh padatan.

Ada dua pertimbangan utama dalam memilih pelarut yang akan digunakan, yaitu harus mempunyai daya larut yang tinggi dan pelarut tersebut tidak berbahaya atau tidak beracun. Polaritas pelarut sangat berpengaruh terhadap daya larut. Indikator pelarut dapat ditentukan dari nilai konstanta dielektrik dan nilai polaritas pelarut.

Pelarut adalah suatu zat yang melarutkan zat terlarut, menghasilkan suatu larutan. Pelarut umumnya berupa zairan tetapi juga bisa menjadi gas, padat, atau fluida superkritis. Pelarut dibagai atas dua yaitu pelarut anorganik dan organik. 

Pelarut Organik adalah pelarut yang umumnya mengandung atom karbon dalam molekulnya. Sedangkan Pelarut Anorganik  adalah pelarut selain air yang tidak mempunyai komponen organik di dalamnya.

Palarut yang digunakan dapat murni dan mengandung sedikit solute sejak awal. Selama proses ekstraksi berlangsung terjadi peningkatan konsentrasi solute dan kecepatan ekstraksi akan menurun karena kemampuan pelarut untuk terus melarutkan solute semakin berkurang.

Berikut 5 Pelarut dalam Ekstarksi Oleoresin adalah:

Baca juga: 5 Faktor Mempengaruhi Metode Ekstraksi Oleoresin


1. Etanol

Etanol
Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/

Etanol merupakan suatu golongan senyawa organik yang mengandung unsur C, H, dan O. Etanol dengan rumus kimia C2H5OH. Rumus umum dari alkohol adalah R-OH. Secara struktur alkohol sama dengan air, namun salah satu hidrogennya digantikan oleh gugus alkil. Gugus fungsional alkohol adalah gugus hidroksil, OH. Pemberian nama alkohol biasanya dengan menyebut nama akil yang terikat pada gugus OH, kemudian menambahkan nama alkohol. Etil alkohol atau etanol adalah satu turunan dari senyawa hidroksil atau gugus OH. 

Etanol juga disebut dengan etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau alcohol saja, merupakan sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Karakteristik Etanol terdiri dari (Hembali, et al., 2008):

  1. Bobot molekul 46,1 gram/mol
  2. Tak berwarna
  3. Wujud cair
  4. Titik didih 78,3 derajat celsius
  5. Titik lebur -114,5 derajat celsius
  6. Densitas 0,789 gram/ml


2. n-Heksana

n-Heksana
Sumber: https://www.wikiwand.com/

Pelarut n-heksana merupakan pelarut non-polar, yang sering digunakan dalam mengekstraksi suatu ekstrak. n-heksana adalah bahan kimia yang dibuat dari minyak mentah yang tidak berwarna dengan bau, sedikit tidak menyenangkan. Bersifat sangat mudah mudah terbakar, dan uap yang dapat meledak. Pelarut n-heksana digunakan di laboratorium dan industri dicampur dengan bahan kimia. 

Karaktersitik pelarut n-heksana terdiri dari (Kastianti & Amalia, 2008):

  1. Bobot molekul 86,2 gram/mol
  2. Tak berwarna
  3. Wujud cair
  4. Titik lebur -95 derajat celsius
  5. Titik didih 69 derajat celsius
  6. Densitas 0,6603 gram/ml


3. Kloroform

Kloroform

Kloroform atau triklorometana memiliki rumus kimia CHCl3 merupakan suatu komoditas bahan kimia yang cukup banyak dibutuhkan untuk fungsinya sebagai bahan untuk anestesi, refrigerant, pelarut dalam industri pembuatan pewarna, industri pestisida, pelarut non polar, serta pembuatan tetraflouroethylene (teflon). 

Karaktersitik kloroform terdiri dari (Yusuf & Oesman, 2000):

  1. Bobot molekul 119,37 gram/mol
  2. Tak berwarna
  3. Wujud cair
  4. Titik lebut -63,5 derajat celsius
  5. Titik didik 61,15 derajat celsius
  6. Densitas 1,489 gram/mol


4. Butanol

Butanol

Butanol merupakan kelompok alkohol fusel yang memiliki lebih dari dua atom karbon dan mudah larut dalam air. Produksi butanol sebagian besar digunakan pada pembuatan resin urea, formaldehid dan plasticizer dibutil pthalat. Penggunaan butanol dalam industri dan penelitian adalah sebagai bahan pelarut (solvent), pembuatan pernis nitoselulosa, pembuatan minyak rem, bahan eskstraksi pembuatan antibiotik, vitamin, hormon, dan bahan pelarut ekstraksi minyak. Butanol mempunyai panas laten penguapan yang sangat rendah sehingga dapat menurunkan ignition delay dan compreessin diesel machine dibandingkan etanol dan metanol. 

Karakterisitik butanol terdiri dari (Halimatuddahliana, 2004)

  1. Bobot Molekul 74,12 gram/mol
  2. Tak berwarna
  3. Wujud cair
  4. Tidik lebur -89,3 derajat celsius
  5. Titik didih 117,73 derajat celsius
  6. Densitas 0,81 gram/ml


5. Etil Asetat

Etil Asetat

Etil asetat merupakan senyawa organik dengan rumus CH3COOC2H5. Senyawa ini merupakan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa ini berwujud cairan tak berwarna, memiliki aroma khas. Etil asetat adalah pelarut semi polar yang volatil (mudah menguap), tidak beracun, dan tidak higroskopis. Etil asetat dibuat melalui esterifikasi Fischer dari asam asetat dan etanol. Reaksi esterifikasi Fischer adalah reaksi pembentukan ester dengan cara merefluks asam karboksilat bersama etanol dengan katalis lambat, tetapi bila menggunakan katalis, kesetimbangan reaksi akan tercapai lebih  cepat. Asam yang dapat digunakan sebagai katalis adalah asam sulfat, asam klorida, dan asam fosfat.

Karakteristik etil asetat terdiri dari (Palwa, 2016):

  1. Bobot molekul 88,11 gram/mol
  2. Tak berwarna
  3. Wujud cair
  4. Titik didih 77,1 derajat celsius
  5. Titik lebur -83,6 derajat celsius
  6. Densitas 0,902 gram/ml

Baca juga: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekstraksi


Sumber:

Halimatuddahliana. 2004. Pembuatan n-Butanol dari Berbagai Proses. Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Medan.

Hembali, E., S. Mujdalipah, A. H. Tambunan, A. W. Pattiwiri & R. Hendroko, 2008. Teknologi Bioenergi. Agromedia. Jakarta.

Kastianti, N. & Amalia, Z.Q. 2008. Laporan Penelitian Pengambilan Minyak Atsiri dengan Metode Esktraksi Distilasi Vakum, Skripsi. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik UNDIP. Semarang.

Palwa, A. Y. Variasi Penambahan Asam Asetat dan Katalis pada Proses Esterifikasi Etanol dari Kulit Pisang Raja (Musa Paradisiaca L.) menjadi Etil Asetat.

Yusuf, S. & Oesman F. 2000. Studi Kandungan Kimia Esktrak Kloroform Batang Tumbuhan Mengkelik (Gynotroches axilaris, BL). Jurnal Penelitian Sains (7) : 1-10. http://ejurnal.mipa.unsri.ac.id/index.php/jps/article/view/318.


Salam Lestari,
Lamboris Pane

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel