Gambaran Umum Lahan Gambut

gambaran

Lahan gambut tropis di dunia meliputi areal seluas 40 juta ha dan hampir separuhnya berada di Indonesia, yaitu sekiatar 16-20 juta ha yang terhampar di dataran rendah pantau (Wibisono, 2005). Kalimantan Tengah memilki luas wilayah kurang lebih 153.564 km persegi dengan luas wilayah yang bergambut sekitar 2.651.724 ha. 

Gambut adalah material organik yang terbentuk dari bahan-bahan organik, seperti dedaunan, batang dan cabang serta akar tumbuhan yang terakumulasi dalam kondisi lingkungan yang tergenang air, sangat sedikit oksigen, keasaman tinggi dan terbentuk di suatu lokasi dalam jangka waktu lama (Endo, 2010).

Hutan rawa gambut (peat swamp forest) merupakan suatu formasi hutan yang cukup luas di Indonesia. Istilah hutan wara gambut muncul karena antara hutan rawa dan hutan gambut umumnya berdekatan, seringkali tidak memiliki batas yang tegas. Ciri umum tanah gambut, tidak mengalami perkembangan profil kearah terbentuknya horizon-horizon yang berbeda, berwarna coklat kelam sampai hitam, berkadar air tinggi dan berwarna seperti teh serta bereaksi masam dengan pH 3,0-5,0 (Darwanto, 2008).

Gambut merupakan asset potensial untuk dapat digunakan baik langsung maupun tidak langsung bagi kepentingan dan kesejahteraan manusia. Fungsi gambut, selain sebagai penyangga lingkungan juga penghasil berbagai produk seperti kayu (tanaman) dan fauna (ikan, burung, dan sebagainya).

Dalam kawasan hutan gambut baik di Kalimantan ataupun di Sumatera terdapat sekitar 34-58 jenis pohon sebagai penghasil kayu. Jenis kayu yang mempunyai nilai ekonomi tinggi antara lain ramin (Gonstylus bancanus), meranti (Shorea sp), pulai (Alstonia sp), terantang (Campnospernum sp), geronggang (Cratoxylon arboresces), punak (Tetramerista glabra), mahoni (Swietenia macrophyla), dan jelutung (Dyera polyphylla) (Wibisono, 2005).

Dari segi potensi luas gambut, Indonesia merupakan negara ke-empat terbesar di dunia dengan luas 17 juta ha (Notohadiprawiro, 1996). Namun, dari sekian luas gambut tersebut baru sekiatar 0,531 juta ha yang telah dimanfaatkan, terutama untuk pengembangan pertanian (Dwiyono, 1996).

Kecamatan Jabiren Raya berada di daerah Selatan Kabupaten Pulang Pisau, yang didominasi atas dataran rendah dan rawa gambut (peat swamp) dengan ketinggian sekitar 0-250 m dpl sehingga sangat berpotensi untuk pengembangan lahan pertanian, namun sangat rentan mengalami banjir pada musim penghujan.

Pembentukan tanah gambut dimulai dengan adanya cekungan lahan berdrainase jelek dan genangan air sehingga memungkinkan terjadinya penumpukan bahan organik yang sukar melapuk. Penumpukan bahan oranik dapat berjalan terus karena sifat permeabilitas ke bawah yang rendah dari tanah-tanah jelek dan air tetap tergenang (BPS Kabupaten Pulang Pisau, 2018). Kualitas tanah gambut sangat tergantung pada vegetasi yang menghasilkan bahan organik pembentuk tanah gambut, bahan mineral yang berada di bawahnya, faktor lingkungan tempat terbentuknya apabila terdapat banyak limpahan dalam proses dekomposisinya.

Faktor penghambat utama tersebut adalah genangan air sepanjang tahun atau kondisi rawa. Dalam konteks yang demikian, hutan sebagai penghasil biomassa yang mendominasi wilayah Kalimantan (sekitar 65,05% dari toal luas wilayah), khususnya pada areal-areal yang selalu tergenang air merupakan kawasan potensial terbentuknya gambut. Tetapi sebaliknya, tidak semua hutan dapat membentuk lahan gambut (BPS Kabupaten Pulang Pisau, 2018).

Kabupaten Pulang Pisau memilki lahan rawa dan rawa pasang surut seluas 307.980. Salah satu sifat gambut apabili sudah kering tidak akan dapat balik (irreversible drying), di daerah ini pada musim kemarau (Juni-November) menjadi langganan kebakaran hutan, sehingga diperlukan solusi untuk pengembangan yang berkelanjutan yaitu tipe pengelolaan yang sesuai untuk pemanfaatan ekosistem rawa gambut dengan mempertimbangkan alternatif sebagai daerah perlindungan gambut dan ekosistem berbasisi konservasi.

Perairan rawa gambut merupakan salah satu ekosistem peraiaran umum yang pada permukaan tanahnya ditutpi oleh tumbuhan dan dicirikan dengan tebalnya lapisan tanah organik (gambut) dan kondisi fisik-kimiawi tanah tersebut mempengaruhi kondisi fisik, kimia, dan biologi perairan. 

Pada umumnya peraiaran rawa gambut sebagai asam sampai netral (nilai pH berkisar 3,5-7), dengan kandungan unsur hara yang rendah. Rawa gambut yang terbentuk akibat sungai/anak sungai yang mengalir melewati daerah limpasan banjir yang luas, biasanya pada musim kemarau air hanya berada pada basin sungai sedangkan daerah limpasan banjir menjadi lahan basah.

Perairan rawa di daerah ini dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu: lahan rawa rendah limpasan dan hutan rawa gambut. Umumnya rawa limpasan banjir (Rawa Alluvial) adalah perairan dangkal pada tanah alluvial dataran rendah yang terletak di sepanjang aliran sungai. Sumber air di lahan rawa jenis ini berada dalam luapan air sungai, maka lahan rawa daerah limpasan banjir relatif lebih subur dibanding hutan rawa gambut (Mackinnon et al., 2000).

Ditinjau dari aspek perairan pada umunya daerah ini mengalami genangan air secara periodik dan lahannya memiliki topografi bergelombang kecil sehingga menciptakan bagian cekungan yang tergenang (Indriyanto, 2006). Pada musim hujan hutan rawa ini biasanya digenangi air dengan ketinggian kurang lebih 10 cm diatas permukaan tanah, dan sebalinya permukaan air tanah akan turun hingga 60 cm dibawah permukaan tanah pada musim kemarau.

Noor (2001) menjeaskan bahwa secara alamiah tanah gambut memiliki tingkat kesuburan rendah, karena kandungan unsur haranya rendah dan mengandung beragam asam organik yang sebagian racun bagi tanaman. Tanah gambut dengan ketebalan lebih dari 130 cm disebut tanah rawa bergambut dan bila kurang dari 130 cm disebut tanah bergambut.

Pembentukan hutan rawa gambut saat ini merupakan hasil suksesi yang memakan waktu yang cukup lama. Suksesi hutan rawa gambut diperkirakan berasal dari pertumbuhan payau yang berangsur-angsur berubah menjadi tumbuhan hutan rawa gambut. 

Andreas (2011) menyatakan bahwa perkembangan awal hutan rawa gambut hanya berada di pinggir pantai, sedangkan pada rawa yang diperdalaman adalah yang telah berkembang lama.

Selain itu tanah gambut juga memilki nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang tinggi tetapi Kejenuhan Basa (KB) rendah sehingga menyebabkan pH tanah rendah dan jumlah pupuk yang diberikan kedalam tanah relatif sulit diserap oleh akar tanaman. Pada umunya lahan gambut tropis memiliki pH antara 3-4 dimana gambut dangkal mempunyai pH lebih tinggi (pH 4,0-5,1) dari gambut dalam (pH 3,1-3,9) (Andreas, 2011).

Kandungan Al pada tanah gambut umumnya rendah sampai sedang dan semakin berkurang seiring dengan menurunnya pH tanah. Sebaliknya, kandnungan besi (Fe) cukup tinggi. Kandungan N total termasuk tinggi, namun umumnya tidak tersedia bagi tanaman oleh karena rasio C/N yang tinggi. Kandungan pH habitat gambut biasanya berkisar 3,2 dan bersifat hampir steril memungkinkan penyebab jumlah vegetasi yang ada dalam hutan tidak banyak, akan tetapi kebanyakan vegetas yang khas (Wibisono, 2005).

Noor (2001) menjelaskan bahwa tingkat keseburan gambut ditemukan oleh kandungan bahan mineral dan basa-basa, bahan substratum/dasar gambut dan ketebalan lapisan gambut tumbuhan flora berada dikawasan gambut Kalimantan lebih subur dan rimbun dibandingkan yang ada di Sumatera. Namun dengan adanya penebangan atau pembalakan liar (logging) serta kebakaran, menyebabkan vegetasi hutan-hutan primer ini mengalami suksesi dengan vegetasi sekunder yang didominasi oleh semak-semak seperti paku-pakuan (Achrosticum aureum), rumput liar seperti purun tikus (Eleocharis dulcis), dan pohon-pohon seperti galam (Melaleuca leucadendrom). Berdasarkan persebaran jenis gambut, mutu gambut di Sumatera lebih dibandingkan dengan Kalimatan.

Topografi lahan gambut tropik umumnya berbentuk kubah(dome). Dari pinggir kearah tengah makin mendekati puncak kubah, permukaan lahan makin meningkat dengan perbedaan tinggi kurang dari 1 meter pada setiap jarak satu kilometer. Perbedaan tingkat permukaan di lahan gambut berhubungan erta dengan ketebalan gambut (Wibisono, 2005).

Keadaan iklim di lahan gambut tergantung pada letak ketinggian lokasi dari permukaan laut. Lahan gambut mempunyai beragam iklim karena mencakup sebaran wilayah yang luas dari yang beriklim sedang, tropik, hingga tropik basah.

Ekosistem gambut memberikan manfaat yang sangat luas bagi kehidupan di muka bumi karena merupakan habitat berbagai flora-fauna dan berperan sebagai pengatur tata air sehingga daerah di sekitarnya dapat terhindar dari intrusi air laut pada saat musim kemarau dan tercegah dari banjir saat musim hujan. Lebih jauh lagi, lahan dan hutan gambut mampu menyimpan dan menyerap gas rumah kaca karbon dalam jumlah besar sehingga secara tidak langusng juga berperan penting dalam mengatur iklim lokal maupun global (Wibisono, 2005).


Daftar Pustaka

Andreas. 2011. Keanekaragaman Jenis Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di Hutan Pendidikan Hampangen. Univeristas Palangka Raya.

BPS Kabupaten Pulang Pisau. 2018. Profil Kabupaten Pulang Pisau. Kabupaten Pulang Pisau.

Darwanto, R. 2008. Studi Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Tingkat Tiang dan Pohon berdasarkan Kelas Kerapatan Tajuk di Hutan Rawa Gambut Sebangau Kalimantan Tengah. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Endo. 2010. Perumbuhan Anakan Pantung Rawa (Dyera Lowii Hook. F.) pada Naungan yang Berbeda di Persemaian Cimptrop Universitas Palangka Raya. Cimptrop.

Mackinnon, K., Hatta G, Hakimah H, Arthur M. 200. Ecology of  Kalimantan. Series of Ecology of Indonesia, Book III. Canadian International Development Agency (CIDA), Prenhalindo. Jakarta.

Noor, M. 2001. Pertanian Lahan Gambut. Kanisius: Potensi dan Kendala. Yogyakarta.

Wibisono, L. T. C., Siboro, L. dan Putra, Inn. 2005. Wetland International-IPB. Bogor.


Salam Lestari,

Lamboris_Pane

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel