3 Cara Pengolahan Rotan (Produk HHNK Berkekuatan)

cara

Produk hasil hutan non kayu ini terdiri dari kelompok monokotil dan rumput-rumputan yang sudah dikenal yaitu rotan dan bambu. Selain itu produk dari kelapa, kelapa sawit, sagu, dan nipah yang berasal dari bagian barang pohonnya sesuai dengan informasi yang tersedia juga masuk di dalamnya, walaupun mungkin tidak banyak (Kasmudjo, 2010).

Kelompok produk Hasil Hutan Non Kayu (HHNK) dapat dipahami dan diterima sebagai bagian dari HHNK pada umumnya. Oleh karena penggolongannya di dalam lingkup perdagangan atau pemasaran hasil hutan, yaitu semua produk hasil hutan selain adalah HHNK atau HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu). Bahkan atas dasar kategori potensi (ha, ton) dan nilainya yang kurang dibandingkan dengan kayu maka kelompok hasil hutan ini ada yang menyebut pula dengan HHI (Hasil Hutan Ikutan) artinya mengikuti atau kurang dibandingkan dengan kayu. (Kasmudjo, 2010).

Rotan termasuk jenis tumbuhan penghasil kayu (berkekuatan) yang tumbuhnya memajat dan berduri pada setiap ruasnya, jenis rotan dominan di daerah tropik, walaupun terdapat pula di daerah sub tropik. Produk dari batangnya, dengan berbagai upaya pengolahan telah mampu memasuki pasaran global (Kasmudjo, 2010).

Spesies rotan sangat banyak dan belum seluruhnya dikenal. Kebanyakan spesies yang diketahui adalah yang diperdagangkan (termasuk yang diolah) dan telah dibudidayakan. Rotan merupakan jenis palma, terdiri dari 9 genus. Walupun femili atau marganya banyak, jenis-jenis yang dikenai pada tiap wilayah sangat beraneka ragam, misalnya (Kasmudjo, 2010):

  1. Calamus scipionum Lour di Vietman, Borneo, Sumatera, dan Palawan.
  2. Calmus ornatus BL. di Thailand, Malaya, Jawa, Borneo, Filipina, dan Sulawesi.
  3. Daemonorops oblata J. Dransf. di Borneo Barat.
  4. Daemonorops ujijuga F. Dransf, di Serawak Barat.

Biasanya pada tiap-tiap lokasi potensi rotan selalu terdapat dalam kelompok-kelompok yang spesiesnya bisa mencapai 30 macam. Saat ini sudah di inventarisasi jenisnya di Indonesia tidak kurang dari 86 macam. Di Indonesia hutan/tanaman rotan penanaman pada 26 provinsi dengan luas sekitar 30 juta ha. Usaha penanaman sudah dilakukan mulai tahun 60-an dengan luas sampai saat ini kurang dari lebih 900.000 ha (Kasmudjo, 2010).

Salah satu sifat positif dari rotan adalah kelenturannya, bahkan kekuatannya sangat memadai untuk mebel dan anyaman. Dengan 20% spesies komersial, rotan dapat digunakan dalam bentuk bulat (bundar), belahan kulit dan hati maupun dalam bentuk anyaman, keranjang atau kombinasi ke tiganya dalam bentuk produk mebel rotan (Kasmudjo, 2010).

Sejak dari hutan, pemungutan, pengangkutan penumpukan dan pengolahannya di pabrik, semuanya memungkinkan adanya pengaruh terhadap produk hasil olahan rotan. Adanya faktor-faktor yang berpengaruh adalah sebagai berikut (Kasmudjo, 2010):

  1. Asal hutan, terutama tua mudanya, jenis dan ukuran.
  2. Adanya cacat, baik cacat alami, cacat pungutan maupun cacat prosesing (mekanis dan biologis).
  3. Proses pengolahan awal (rotan mentah), misalnya pada proses penggorengan dan pengasapan.
  4. Proses pengolahan lanjutan, sejak dari proses pengolahan komponen-komponen rotan sampai menjadi produk jadi rotan.

Untuk mengatasi (meminimalkan) pengaruh faktor-faktor tersebut dapat dilakukan antara lain dengan (Kasmudjo, 2010):

  1. Meningkatkan pengatahuan dan keterampilan SDM.
  2. Mengketatkan proses seleksi kualitas rotan.
  3. Mengerjakan (memproses) rotan dengan cermat dan benar.

Rendemen dan hasil pengolahan rotan bervariasi karena bahan baku, proses, dan tujuan produknya berbeda-beda. Secara umum untuk tujuan produk mebel dan kerajinan rendemennya bisa mencapai 60-65% (Kasmudjo, 2010).

Tentang kualitas produk rotan secara umum sudah distandarisasi dengan teliti. Informasi kualitas yang penting antara lain, kadar air, ukuran rotan asalnya, dan keadaan fisik (kerataan, warna, kehalusan permukaan, adanya cacat, dan kekerasannya).

Banyak cara dan variasi-variasi di dalam pengolahan rotan. Untuk menghasilkan rotan mentah (rotan bulat) dapat digunakan cara sederhana dan cara semi mekanis, sedangkan untuk menghasilkan produk rotan setengah jadi sampai jadi dapat digunakan cara mekanis atau terpadu dengan cara sebagai berikut (Kasmudjo, 2010):


1. Pengolahan Semi Mekanis

Cara pengolahan ini digunakan untuk menghasilkan rotan bulat yang telah digoreng dan diasapi. Penggorengan rotan dilakukan dengan minyak tanah, minyak solar, minyak goreng atau campuran minyak-minyak tersebut. Pengasapan rotan dilakukan dengan mengalirkan asap belerang ke dalam ruang tumpukan rotan (Kasmudjo, 2010).


2. Pengolahan Rotan Setengah Jadi (Produk Komponen)

Didalam proses ini dihasilkan bermacam-macam komponen rotan berupa bulat maupun rotan belahan dengan berbagai bentuk dan ukuran. Komponen hasil olahan umunya digunakan untuk membuat produk-produk aneka mebel dan kerajinan rotan (Kasmudjo, 2010).

Pada komponen yang dihasilkan juga sudah dilakukan pengupasan (pembulatan), pelurusan, penyambungan, pelobangan, pembelahan (pengiratan), dan penenunan. Produk setengah jadi yang dihasilkan dapat berupa: rotan bulat tidak dikupas, rotan bulat sudah dikupas, rotan bulat dengan sambungan atau lobang, rotan belahan besar, rotan iratan, dan rotan anyaman (tenunan).


3. Pengolahan Rotan Jadi (mebel rotan)

Secara umum sebagian besar proses yang dilakukan sama dengan proses pengolahan rotan setengah jadi. Bedanya pada proses ini diteruskan dengan proses perangkaian (assembling), finishing (dipolitur atau dicat), dan penambahan (pemasangan) kelengakapan lain, misalnya pemasangan jok kursi, penambahan kaca meja dan sebagainya (Kasmudjo, 2010).


Sumber:

Kasmudjo. 2010. Teknologi Hasil Hutan. Cakrawala Media. Yogyakarta.


Salam Lestari,

Lamboris_Pane

0 Response to " 3 Cara Pengolahan Rotan (Produk HHNK Berkekuatan)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel