7 Tumbuhan yang Dilindungi di Kalimantan Tengah

Tumbuhan dilindungi

Flora atau tumbuhan yang dilindungi di Indonesia  kaya akan keragaman dan keunikan. Hal ituterbuktidenganadanya jutaan jenis flora / tumbuhan yang tersebar di hutan yang ada di Indonesia mulai sabang hingga merauke. Namun seiring dengan berjalannya waktu, lahan-lahan untuk tumbuhan tersebu tsudah berkurang yang tentunya hal itu berdampak pada semakin langkanya beberapa flora yang ada di Indonesia. Khususnya yang ada di Pulau Kalimantan terutama pada Provinsi Kalimantan Tengah.

Maka dari itu pemerintah mengeluarkan PP No. 7 tahun 1999 tentang flora dan fauna yang dilindungi. Dalam PP tersebut dicantumkan beberapa flora yang dilindungi dan sanksi apabila melanggarnya. Meski beberapa flora sudah dilestarikan di taman nasional dan cagar alam, namun sebagian besar masih berada di hutan dan sekitar pemukiman warga. Berikut ini beberapa tumbuhan Kalimantan Tengah yang dilindungi.


Berikut Tumbuhan yang Dilindungi di Kalimantan Tengah adalah,


1. Pohon Ulin (Eusideroxylon zwageri)

Pohon Ulin
Sumber: https://kalsel.antaranews.com/

Klasifikasi,

Kingdom: Plantae
Divisi: Spermatophyta
Kelas: Dicotiledoneae
Ordo: Laurales
Famili: Lauraceae
Genus: Eusideroxylon
Spesies: Eusideroxylon zwageri T. et B.

Pohon ulin merupakan tanaman Dipterocarpaceae yang tumbuh alami di Pulau Kalimantan. Selain dikenal sebagai kayu besi, pohon ulin juga memiliki nama lokal lainnya yaitu bulian, bulian rambai, onglen (Sumatera Selatan), belian, tabulin, telian, tulian dan iron wood. Kayu ulin dikenal sebagai kayu yang awet dan kuat sehingga memiliki banyak manfaat dan sangat diminati masyarakat. Meskipun demikian, karena pertumbuhan pohon ulin yang lambat budidaya ulin sangat sedikit dan stock di alam sangat terbatas. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan populasi pohon ulin terus menurun bahkan menyebabkan pohon ulin terancam punah (Nugroho 2007).

Pohon ulin termasuk jenis pohon yang pertumbuhannya lambat sehingga stock di alam lebih sedikit daripada permintaan masyarakat terhadap kayu jenis ini. Kayu ulin sangat diminati masyarakat karena sangat awet dan kuat serta sangat cocok digunakan sebagai bahan bangunan. Kayu ulin yang biasanya diperdagangkan merupakan kayu ulin yang berasal dari pohon ulin di alam dengan usia ratusan tahun. Akibat terus diperdagangkan, keberadaan pohon ulin di alam semakin berkurang dan harga kayu ulin di pasar sangat tinggi/mahal (Nugroho 2007). 

Meskipun harganya yang tergolong mahal sampai saat ini belum banyak masyarakat yang membudidayakan ulin sehingga untuk memenuhi kebutuhan akan kayu ulin masyarakat masih sangat tergantung dari habitat pohon ulin aslinya di hutan alam. Hal ini semakin menyebabkan populasi pohon ulin di alam semakin menurun bahkan terancam punah.Penyebab terancam punahnya pohon ulin juga diduga disebabkan oleh kerusakan habitat pohon ulin (Nugroho 2007). 

Kerusakan habitat ini disebabkan oleh pembukaan wilayah hutan untuk kepentingan konversi bagi pemanfaatan lahan yang tidak memperhitungkan keanekaragaman hayati ke dalam variabel perencanannya. Kondisi seperti ini diperparah dengan adanya penebangan liar yang merambah ke kawasan konservasi (Nugroho 2007).

Batang pohon ulin pada umumnya tumbuh lurus dengan diameter batang mencapai 150 cm, sedangkan tingginya 30 hingga 50 meter. Kayu teras pada bagian dalam pohon ulin berwarna coklat kehitaman, sedangkan kayu gubalnya berwarna coklat kekuningan. Apabila direndam di air dalam waktu yang lama, warna batang ulin yang telah dipotong-potong akan berubah menjadi hitam. Banir pohon ulin dapat mencapai ketinggian 4 meter (Nugroho 2007). 

Kulit luar pohon Ulin berwarna coklat kemerahan dengan tebal 2-9 cm. Kulit pohon ulin memiliki tekstur yang licin. Tajuk pohon ulin berbentuk bulat dan rapat serta memiliki percabangan yang mendatar.Daun pohon ulin tersusun spiral, tunggal dengan pinggir rata berbentuk elips hingga bulat dengan ujung daun meruncing. Daun pohon ulin memil panjang 14-18 cm dengan lebar 5-11 cm. Permukaan daun bagian atas kasar tanpa bulu, sedangkan bagian bawahnya berambut halus pada ibu tulang daunnya (Nugroho 2007).

Bunga ulin cepat luruh berwarna kehijauan, kuning atau lembayung. Bunga ulin simetris kesegala arah dengan panajng 3-3 mm.  Buah pohon ulin merupakan buah batu berbentuk elips hingga bulat dan berbiji satu. Buah ulin memiliki panjang 7-16 cm dengan diameter 5-9 cm. Daging buahnya bergetah, licin, dan bening (Nugroho 2007). 

Di dalam satu buah ulin terdapat satu benih dengan panjang 5-15 cm dan diameternya 3-6 cm. Kulit benih ulin sangat keras dan beralur berwarna coklat muda. Benih ulin ini memiliki berat yang bervariasai yaitu antara 45 – 360 gr/butir. Saat ini pohon ulin terbesar ditemukan di Taman Nasional Kutai, Kutai Timur, Kalimantan Timur dengan tinggi bebas cabang mencapai 45 meter dan diameter pohonnya 225 cm (Nugroho 2007).

Pohon Ulin yang juga dikenal dengan nama pohon besi merupakan jenis pohon yang tumbuh alami di hutan tropika basah. Pohon ulin pada umumnya tumbuh di dataran rendah hingga tempat dengan ketinggian 400 mdpl. Pohon ini dapat tumbuh di daerah dengan kondisi tanah yang tingkat kesuburannya rendah dengan Ph, KTK, KB, N, P, K, C/N, Ca, Mg, dan Na rendah serta kandungan Al yang tinggi (Nugroho 2007). 

Pohon ulin juga cocok tumbuh di wilayah dengan jenis clay foam dan berkapur dengan drainase baik. Pohon ini tumbuhnya terpencar atau mengelompok dalam hutan campuran, namun jarang ditemukan di habitat rawa-rawa.  Pohon ulin tumbuhnya agak terpisah dari pepohonan lain dan dikelilingi jalur jalan melingkar dari kayu ulin. Di Kalimantan Tengah, pohon ini umumnya ditemukan di sepanjang aliran sungai dan sekitar perbukitan membentuk tegakan murni hutan primer dan sekunder (Nugroho 2007).


2. Pohon Ramin (Gonystylus bancanus)

Pohon Ramin
Sumber: https://www.greeners.co/

Klasifikasi,

Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Myrtales
Famili: Thymelaeaceae
Genus: Gonystylus
Spesies: Gonystylus bancanus

Ramin (Gonystylus spp.) adalah salah satu jenis pohon yang tumbuh di hutan alam rawa. Di Indonesia, saat ini jenis kayu Ramin hanya dapat dijumpai di kawasan hutan rawa pulau di Kalimantan.  Di pulau Kalimantan, kayu jenis ramin dapat dijumpai di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan sedikit di Kalimantan Timur. 

Kayu jenis ramin telah sejak lama dikenal sebagai penghasil produk kayu komersial dan memiliki harga jual yang cukup mahal sehingga digolongkan dalam kategori kayu indah. Penampakan fisik jenis ramin yang bertekstur halus membuat jenis ini cukup digemari di pasar kayu Internasional. Harga jual dari produk jadi kayu ramin di pasar internasional hingga saat ini telah mencapai US $ 1.000 per meter kubik. 

Produk yang dihasilkan umumnya berbentuk kayu olahan (sawn timber), produk setengah jadi (moulding dowels) dan produk jadi (furniture, window blinds, snooker cues). Negara pengimpor jenis kayu ini antara lain Italia, Amerika Serikat, Taiwan, Jepang, China, dan Inggris. Tingginya harga jual dan besarnya kebutuhan pasar terhadap jenis kayu ini ternyata membuat maraknya kegiatan penebangan di kawasan hutan rawa gambut.

Setelah menjadi andalan dari perusahaan HPH hutan rawa tahun 1990-an, dalam beberapa tahun belakangan ramin juga telah menjadi incaran aktivitas illegal logging. Sejak tahun 1998 aktivitas Illegal logging telah teridentifikasi menjadi semakin marak dan kayu ramin menjadi salah satu kayu terpopuler yang menjadi incaran para penebang di Sumatera dan Kalimantan. 

Bahkan pada tahun 1999, aktivitas illegal logging di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting volume penebangan ilegal kayu ramin mencapai 5.000 m3 setiap minggunya. Angka ini sebanding dengan angka produksi tahunan sebuah perusahaan HPH penghasil ramin di Riau, PT Diamond Raya Timber (PT. DRT). Penebangan jenis kayu ramin secara ilegal tidak hanya dijumpai di Taman Nasional Tanjung Puting saja melainkan telah menjalar ke beberapa kawasan konservasi hutan rawa gambut. 

Sementara data tentang berapa besar volume kayu ramin yang telah diperdagangkan dan diekspor dari Indonesia secara ilegal tidak ada orang yang tahu. Yang jelas sampai saat ini kayu ramin ilegal yang berasal dari Indonesia masih beredar di pasar-pasar internasional. Padahal sejak pertengahan dekade 90-an jenis kayu ramin telah dinyatakan langka. 

Ancaman kepunahan terhadap jenis kayu ramin dengan maraknya aktivitas illegal logging yang telah merambah ke kawasan konservasi serta adanya tekanan tekanan dari organisasi non pemerintah (ornop), yang akhirnya mendorong pemerintah Indonesi auntuk mengusulkan penempatan ramin dalam Appendix III CITES (convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dengan zero quota

Usulan ini juga disetujui oleh CITES dengan adanya SK Menhut No. 127/Kpts-IV/2001 tentang penghentian sementara (moratorium) penebangan dan perdagangan ramin (Gonystylus spp.) Kebijakan pemerintah ini telah menimbulkan reaksi keras dari kalangan industri kayu dan dunia internasional terutama Malaysia. Reaksi ini tentu didasarkan atas kondisi pasar dan stok kayu ramin yang ada. Namun hingga kini belum pernah ada angka angka yang cukup dipercaya terhadap status dan situasi ketersediaan tegakan ramin yang masih tersisa di hutan alam dan situasi perdagangan kayu ramin. 

Demikian pula halnya dengan situasi perdagangan kayu ramin secara internasional. Kondisi seperti ini yang menjadi alasan utama untuk melakukan sebuah studi komprehensif terhadap situasi ketersediaan dan perdagangan jenis ramin. Populasi ramin berdasarkan data Departemen Kehutanan tahun 1980, luas hutan rawa primer di Kalimantan Tengah mencapai 453.000 hektar. 

Dalam jangka waktu Di Taman Nasional Berbak untuk strata pohon, ramin merupakan jenis dominan di bawah durian burung (Durio carinatus) dan jelutung (Dyera costulata) sehingga perlu mendapat perhatian khusus. Tidak kurang dari 1,42 juta m3 dalam bentuk tegakan ramin harus dilindungin keberadaannya. Selain ramin, jelutung juga dilindungi oleh undang-undang sesuai dengan SK Mentan No. 54/Kpts/ Um/2/1972.


3. Tenggaring atau kapulasan (Nephelium ramboutan-ake)

Tenggaring
Sumber: https://www.abangnji.com/

Klasifikasi,

Kindom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Sapindales
Famili: Sapindaceae
Genus: Nephelium
Spesies: Nephelium ramboutan-ake (Labill.) Leenh.

Tenggaring atau kapulasan adalah flora identitas provinsi Kalimantan Tengah. Tenggaring atau kapulasan ini mirip dengan rambutan (Nephelium lappaceum)karena memang masih berkerabat dekat. Dan tenggaring memang merupakan jenis rambutan hutan yang banyak tumbuh alami di hutan Kalimantan Tengah. 

Di Indonesia tumbuhan ini dikenal juga sebagai kapulasan, pulasan (Sunda), tenggaring (Kalimantan Tengah), tukou biawak (Kubu), Molaitomo (Gorontalo), mulitan (Toli-toli). Selain sering juga disebut sebagai rambutan kafri dan rambutan paroh. Dalam bahasa Inggris pohon yang menjadi tanaman khas Kalimantan Tengah ini disebut sebagai pulasan. Sedang dalam bahasa latin tumbuhan ini dinamai Nephelium ramboutan-ake (Labill.) Leenh  yang bersinonim dengan Nephelium mutabile Blume., Litchi ramboutan-ake Labill., Nephelium intermedium Radlk., dan Nephelium philippense Mons.

Diskripsi dan Ciri. Pohon kapulasan atau tenggaring (Nephelium ramboutan-ake) menyerupai pohon rambutan karena masih dalam 1 marga. Tinggi pohon Kapulasan umumnya lebih pendek dari rambutan meskipun mampu mencapai tinggi hingga 20 m. Bentuk batang, dahan, percabangan, dan daun tenggaring hampir sama dengan daun rambutan, hanya daun tenggaring berukuran lebih kecil. Panjang daunnya 4 kali lebarnya. 

Perbungaan tersusun malai yang terdapat di setiap ketiak atau agak ke ujung ranting. Buahnya tebal, bulunya keras, tegak, pendek dan tumpul. Kulit buah tebal berwarna kuning sampai merah tua. Bentuk buah seperti buah rambutan yaitu bundar telur serta daging buahnya manis yang bercampur sedikit asam. Daging buahnya biasanya agak sulit lepas (nglotok) dari bijinya.

Tumbuhan khas Kalimantan Tengah ini tumbuh tersebar di berbagai wilayah di Indonesia mulai Sumatera, Kalimantan, Jawa, hingga Sulawesi. Selain di Indonesia pohon kapulasan juga dapat dijumpai di Malaysia, Thailand, dan Filipina. Habitat yang disukai tumbuhan ini adalah daerah subur dan cenderung lembab pada daerah berketinggian antara 100 – 500 meter dpl.

Kapulasan atau tenggaring (Nephelium ramboutan-ake) dimanfaatkan buahnya untuk dimakan langsung. Selain buahnya, kayunya cukup keras oleh masyarakat setempat sering dipakai untuk  peralatan rumah tangga. Biji tenggaring mengandung minyak nabati lebih banyak dari pada biji rambutan lantaran itu biji ini dapat diproses untuk menghasilkan minyak yang dapat digunakan dalam proses pembuatan lilin dan sabun.

Namun harus diakui buah ini kalah pamor ketimbang saudaranya, rambutan. Selain rasanya yang agak masam, daging buahnya yang sulit mengelupas, pertumbuhan tanaman ini juga relatif lama sebelum akhirnya menghasilkan buah. Namun bagaimanapun juga tanaman penghasil buah ini merupakan salah satu kekayaan hayati kita. Mungkin perlu berbagai penelitian lanjut untuk mengeksplorasi manfaat tumbuhan ini lebih lanjut.


4. Anggrek Bulan (Phalaenopsisi amabilis)

Anggrek Bulan
Sumber: https://www.karanganyar.news/

Klasifikasi,

Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Orchidiales
Famili: Orchidaceae
Genus: Phalaenopsis
Spesies: Phalaenopsis amabilis.

 Anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) merupakan salah satu bunga nasional Indonesia. Anggrek ini merupakan salah satu anggota genus Phalaenopsis, genus yang pertama kali ditemukan oleh seorang ahli botani Belanda, Dr. C.L. Blume. Phalaenopsis sendiri sedikitnya terdiri atas 60 jenis (spesies) dengan sekitar 140 varietas yang 60 varietas diantaranya terdapat di Indonesia.

Di Indonesia, anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) pertama kali ditemukan di Maluku. Anggrek bulan memiliki beberapa nama daerah seperti anggrek wulan (Jawa dan Bali), anggrek terbang (Maluku), dan anggrek menur (Jawa). Pemerintah menetapkan anggrek bulan sebagai puspa pesona mendampingi melati (puspa bangsa), dan padma raksasa (puspa langka) berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1993.

Anggrek bulan merupakan jenis anggrek (Orchidaceae) yang mempunyai ciri khas kelopak bunga yang lebar dan berwarna putih. Meskipun saat ini sudah banyak anggrek bulan hasil persilangan (anggrek bulan hibrida) yang memiliki corak dan warna beragam jenis.

Anggrek bulan termasuk dalam tanaman anggrek monopodial yang menyukai sedikit cahaya matahari sebagai penunjang hidupnya. Daunnya berwarna hijau dengan bentuk memanjang. Akar anggrek bulan berwarna putih berbentuk bulat memanjang dan terasa berdaging. Bunga anggrek bulan memiliki sedikit keharuman dan waktu mekar yang lama serta dapat tumbuh hingga diameter 10 cm lebih.

Anggrek bulan tumbuh liar dan tersebar luas mulai dari Malaysia, Indonesia, Filipina, Papua, hingga ke Australia. Anggrek bulan hidup secara epifit dengan menempel pada batang atau cabang pohon di hutan-hutan. Secara liar anggrek bulan mampu tumbuh subur hingga ketinggian 600 meter dpl.Lantaran keindahannya itu wajar jika kemudian anggrek bulan ditetapkan sebagai puspa pesona, satu diantara 3 bunga nasional Indonesia. Anggrek bulan ditetapkan sebagai puspa pesona mendampingi melati (puspa bangsa) dan padma raksasa (puspa langka). Anggrek ini yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, No. 7 Tahun 1999, Tanggal 27 Januari 1999.


5. Kantong Semar (Nepenthes sp.)

Kantong Semar
Sumber: https://www.indozone.id/

Klasifikasi,

Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Choripetalae
Ordo: Nepenthales
Famili: Nepenthaceae 
Genus: Nepenthes 
Spesies: Nepenthes sp.

Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Kantong semar (Nepenthes) merupakan tumbuhan yang termasuk dalam famili Nepenthaceae yang monogerik, yaitu famili yang hanya memiliki satu genus (Keng, 1969). 

Famili tersebut merupakan salah satu dari tiga famili tumbuhan berbunga yang ketiga-tiganya dikenal sebagai tumbuhan pemangsa. Morfologi kantong Nepenthes adalah kunci utama dalam determinasi jenis-jenis tumbuhan tersebut. Namun untuk beberapa jenis, karakteristik-karakteristik akar dan daun juga sangat penting untuk diperhatikan dalam menentukan jenis Nepenthes sp.

Kebanyakan tumbuhan karnivora tumbuh dengan baik pada tanah atau tempat-tempat yang miskin unsur hara. Begitupun kantong semar, banyak terdapat pada tanah kapur, tanah berpasir, tanah merah dan tanah gambut. Pada umumnya jenis tanah tersebut memiliki kandungan unsur fosfor dan nitrogen sangat sedikit. Sehingga tumbuhan kantong semar memperoleh nutrisi dari sumber lain selain tanah, yaitu serangga atau binatang kecil. 

Defisiensi unsur hara tersebut, secara alamiah tumbuhan mengubah ujung sulur daunnya menjadi kantung yang befungsi untuk menangkap serangga sebagai sumber nutrisi. Sulur daun kantong semar dapat mencapai permukaan tanah atau menggantung pada cabang-cabang ranting pohon yang berfungsi sebagai pipa penyalur nutrisi dan air (Mansur, 2013).

Berikut deksripsi kantong semar,


1. Batang 

Kantong semar mempunyai batang yang kasar dengan diameter 3-5 cm dan panjang internodus antara 3-10 cm dengan warna bervariasi yaitu hijau; merah coklat kehitaman dan ungu tua. Pada beberapa spesies; panjang batang Nepenthes mencapai 15-20 meter (Osunkoya et al., 2007). Batang tersebut merambat diantara semak belukar dan pohon menggunakan sulur daun atau dapat juga menyemak di atas permukaan tanah. Bentuk batang dari tiap tanaman kantong semar berbeda tergantung dari spesiesnya; ada yang segitiga; segiempat; membulat dan bersudut (Hansen, 2001).


2. Akar

Akar kantong semar merupakan akar tunggang sebagaimana tanaman dikotil lainnya. Perakaran tumbuh dari pangkal batang; memanjang; dengan akar-akar sekunder di sekitarnya. Akar yang sehat berwarna hitam dan tampak berisi namun perakaran Nepenthes rata-rata kurus dan sedikit; bahkan hanya terbenam sampai kedalaman 10 cm dari permukaan tanah.


3. Kantong 

Kantong pada tumbuhan ini berfungsi untuk menangkap serangga. Kantong ini mempunyai warna sangat menarik yaitu: hijau dengan bercak merah. Menurut Lloyd (1942) dan Leach (1940) kantong dapat pula berwarna ungu; kuning; hijau dan putih. Serangga yang tertarik oleh warna; lebih jauh dipikat dengan nektar dan baubauan yang dihasilkan oleh kelenjar di bagian bawah bibir yang berlekuk-lekuk dan menjorok ke dalam rongga kantong. 

Serangga seringkali terpeleset dari bibir yang licin berlilin dan tercebur ke dalam cairan di dalam kantong. Cairan ini berisi bermacam-macam enzim pencernaan yang dihasilkan kelenjar di pangkal kantong. Lilin di permukaan dalam kantung tidak memungkinan serangga yang terjebak untuk keluar. Di dasar kantong hidup larva nyamuk; tungau beberapa organisme lain yang tahan terhadap enzim pencernaan. Organisme ini berperan untuk memakan sisa-sisa bangkai serangga sehingga kebersihan kantung tetap terjaga.


4. Bunga

Semua spesies Nepenthes merupakan tanaman dioceous yaitu bunga jantan dan bunga betina berada pada tanaman yang berbeda. Bunga dihasilkan dari bagian apex pada batang tanaman yang telah dewasa. Bunga Nepenthes tergolong aktinomorf; berwarna hijau atau merah; dan biasanya tersusun dalam rangkaian berupa tandan atau bulir panjangnya sekitar 16-32 cm; panjang peduncle 12-15 cm; panjang pedicels 5-15 mm; dengan kelopak bunga terdiri atas dua daun kelopak yang bagian dalamnya memiliki kelenjar madu. 

Benang sari berjumlah 40-46; tangkai sarinya berlekatan membentuk suatu kolom. Bakal buah menumpang; beruang empat dan berisi banyak bakal biji. Tangkai putik berjumlah satu atau kadang tidak ada dengan bentuk kepala putik berlekuk-lekuk. Bunga jantan umumnya hanya bertahan beberapa hari; sedangkan bunga betina masih dapat reseptif hingga beberapa minggu. Setiap bunga betina memiliki ukuran putik dan ovary yang cukup besar. 

Bunga ini membutuhkan serangga sebagai polinator; dan setelah terjadi penyerbukan bunga betina akan berkembang membentuk buah dan menghasilkan biji. Buah yang telah matang sempurna akan pecah dan biji-biji Nepenthes yang ringan ini sangat mudah diterbangkan oleh angin dan selanjutnya biji ini akan tumbuh di tempat yang sesuai (Giusto et al. 2008).

Buah Nepenthes membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk berkembang penuh hingga masak setelah masa fertilisasi. Ketika masak buah akan retak menjadi empat bagian dan biji-bijinya akan terlepas. Penyebaran biji biasanya dengan bantuan angin. Kapsul buah Nepenthes tersebut banyak yang rusak karena gigitan ngengat. Ngengat biasanya memakan buah Nepenthes yang sedang berkembang. 

Biji Nepenthes memiliki bentuk seperti serbuk (debu); sehingga dapat disebarkan angin (anemokori) pada lokasi yang sangat luas dan tumbuh terpencarpencar. Biji dapat pula terbawa aliran air hujan. Namun pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tumbuhan ini hanya ditemukan pada kisaran yang sangat terbatas; pada ketinggian 1500-2000 m dpl. Hal ini menunjukkan bahwa biji memerlukan substrat yang sesuai untuk dapat tumbuh; khususnya kelembaban; pH tanah dan suhu. Tanggapan biji terhadap faktor lingkungan ini tergantung spesiesnya. Oleh karena itu pertumbuhan dan penyebarannya bersifat spatial; terbatas pada tempat-tempat tertentu dan jarang tumbuh dalam jumlah besar.


6. Pohon Kapur (Dryobalanops aromatica)

Pohon Kapur
Sumber: https://alamendah.org/

Klasifikasi,

Kingdom: Plantae
Divisi: Tracheophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Theales
Famili: Dipterocarpacea
Genus: Dryobalanops
Spesies: Dryobalanops aromatica

Pohon Kapur (Dryobalanops aromatica). Pohon kapur mempunyai ukuran yang besar dan tinggi. Diameter batangnya mencapai 70 cm bahkan 150 meter dengan tinggi pohon mencapai 60 meter. Kulit pohon berwarna coklat dan coklat kemerahan di daerah dalam. Pada batangnya akan mengeluarkan aroma kapur bila dipotong.

Daun Kapur tunggal dan berseling, memiliki stipula di sisi ketiak, dengan permukaan daun memngkilap, dan tulang daun sekunder menyirip sangat rapat dengan stipula berbentuk garis dan sangat mudah luruh. Bunga berukuran sedang, kelopak mempunyai ukuran sama besar, mempunyai mahkota bunga elips, mekar, putih berlilin, dan memiliki 30 benang sari. Pohon Kapur memiliki buah agak besar, mengkilap, dan bersayap sebanyak 5 helai.

Tanaman Kapur (Dryobalanops aromatica) tumbuh di hutan dipterocarp campuran hingga ketinggian 300 meter dpl. Persebaran tumbuhan langka ini mulai dari Indonesia (pulau Sumatera dan Kalimantan) dan Malaysia (Semenanjung Malaysia, Sabah, dan Serawak).


7. Mangga Kasturi (Mangifera casturi)

Mangga Kasturi
Sumber: https://www.greeners.co/

Klasifikasi,

Kingdom: Plantae
Divisi: Tracheophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Sapindales
Famili: Anacardiacea
Genus: Mangifera
Spesies: Mangifera casturi Kosterm.

Mangga ini merupakan maskot kalimatan yang ditetapkan sebagai tanaman yang punah secara in situ atau punah di habitat aslinya. Hal ini berarti mangga ini sudah tidak dapat ditemukan di alam liar karena banyaknya kerusakan habitat, mangga ini hanya ditemukan di tempat budidaya. Mangga ini mempunyai tinggi 25 meter dengan diameter batang antara 40-110 cm. Kulit mangga ini berwarna putih keabu-abuan sampai coklat terang. Buah mangga ini seperti buah mangga lainnya namun berukuran lebih kecil dengan berat kurang 80 gram.


Sumber:

Act, Forester. Gambar Biji Ulin. www.foresteract.com. Diakses pada tanggal 18 September 2018.

Alamendah. Pohon Kapur. https://alamendah.org › pohon-kapur. Diakses pada tanggal 18 September 2018.

gencil.news/metropolis. Flora dan Fauna Khas Kalimatan. Diakses pada tanggal 18 September 2018.

Nugroho, AW. 2007. Karakteristik tanah pada sebaran ulin di Sumatera dalam mendukung konservasi. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian.Diakses pada tanggal 18 September 2018.

Susandarini, Ratna, dkk. 2012. Flora dan Fauna Kalimantan. UGM.Yogyakarta.Diakses pada tanggal 18 September 2018.

Keng, H. 1969. Aspects of morphology of Amentotaxus formosana with a note on the taxonomic position of the genus. Journal of the Arnold Arboretum, 50(3), 432-448.

Mansur, M. 2013. Tinjauan Ulang (Review) Tinjauan Tentang Nepenthes (Nepenthaceae) Di Indonesia [a Review of Nepenthes (Nepenthaceae) in Indonesia]. Berita Biologi, 12(1), 1-7.

Osunkoya, O. O., Daud, S. D., Di-Giusto, B., Wimmer, F. L., & Holige, T. M. 2007. Construction costs and physico-chemical properties of the assimilatory organs of Nepenthes species in northern Borneo. Annals of Botany, 99(5), 895-906.

Hansen, E. 2001. FLESH-EATING PLANTS An intrepid pair of flora hunters venture deep into the jungles of Borneo in search of Nepenthes campanulata, the world's rarest carnivorous pitcher plant, and encounter strange diving ants en route. DISCOVER-NEW YORK-, 22(10), 60-67.


Salam Lestari,

Lamboris Pane

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel